Putri Handayani akan mencoba mendaki lagi Gunung Vinson di Antartika pada akhir Desember ini, kemudian Gunung Everest awal tahun depan. Sudah sejak delapan tahun lalu dia memulai pendakian dan penjelajahan tujuh puncak tertinggi di tujuh benua serta kutub utara dan selatan.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
SELAMA delapan hari Putri Handayani berjuang melawan dinginnya kutub selatan yang mencapai minus 25 derajat Celsius. Berjalan menggunakan ski melintasi hamparan es dan salju dengan terpaan angin dari berbagai penjuru.
Belum lagi, dia harus menarik sled (kereta seret) seberat 30 kilogram berisi peralatan survival. ”Dua hari tidak kelihatan apa pun, di hari keempat akhirnya matahari muncul. Horizon line mulai terlihat dan kami bisa merayakan Natal di hamparan es Antartika,” kenang pendaki perempuan asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara, itu tentang ekspedisinya bersama 12 orang lain dari berbagai negara dan empat pemandu pada November tahun lalu itu.
Setelah menempuh 111 kilometer, Putri akhirnya berhasil mengibarkan bendera Merah Putih dan menjadi orang pertama Indonesia yang menapakkan kaki di titik paling selatan bumi (90° S). Capaian itu cukup mengobati kekecewaannya setelah gagal summit (mencapai puncak) di Gunung Vinson.
”Jadi, waktu itu sebenarnya ke Antartika dua ekspedisi. Sebelum ke kutub selatan, saya ke Gunung Vinson dulu,” ujar perempuan yang bekerja sebagai engineer di sebuah perusahaan minyak di Qatar itu saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya pekan lalu (26/11).
Untuk pendakian ke Vinson yang tingginya mencapai 4.892 mdpl, hanya ada empat pendaki di rombongan Putri plus satu guide. Putri satu-satunya dari Indonesia. Mereka sudah sampai di the highest camp atau kamp tertinggi di ketinggian 3.780 mdpl.
Putri ingat betul saat itu Senin. Dia dan rombongan berencana summit Rabu.
”Di high camp itu rehat dulu sehari. Masalahnya, Rabu cuaca diramalkan badai. Nah, kalau badai, kita nggak boleh di high camp karena bahaya banget,” tuturnya kepada Jawa Pos yang mengontaknya dari Surabaya Senin (25/11) pekan lalu.
Rombongan Putri pun memutuskan untuk langsung naik tanpa beristirahat. Ketika terbangun pada Selasa pagi, rupanya angin sudah mulai berembus lebih kencang.
Dua jam berjalan, Putri merasa tangannya kebas. Kebas itu tak kunjung hilang sampai setengah jam kemudian. Baru setelah ditaruh di ketiak sang guide, tangannya kembali normal. ”Itu satu-satunya cara,” bebernya.
Kebas yang Putri rasakan tidak hanya tanda frostbite. Dikhawatirkan tubuhnya juga belum teraklimatisasi dengan baik lantaran melewatkan istirahat. Karena itu, diputuskan untuk kembali ke high camp dan turun.
Enam Bulan Persiapan
Pada 27 Desember mendatang, Putri akan kembali mengulang ekspedisi Vinson. Belajar dari kegagalan sebelumnya, dia mempersiapkan semuanya lebih matang.
Persiapan fisik sudah dilakukan alumnus Universitas Indonesia (UI) yang juga anggota pencinta alam KAPA Fakultas Teknik UI tersebut selama enam bulan terakhir. Check-up kesehatan juga dia lakukan selama berada di Indonesia sejak awal tahun ini.
Apabila kelak sukses mendaki Vinson, tersisa dua ekspedisi lagi untuk menuntaskan misi The Explorer’s Grand Slam yang telah dia mulai sejak 2016. Hanya pendaki yang berhasil menyelesaikan tujuh puncak tertinggi di tujuh benua serta kutub utara dan selatan yang bisa mendapat gelar Explorer’s Grand Slam.
Putri telah menyelesaikan lima dari tujuh gunung serta kutub selatan. Yakni, Kilimanjaro di Tanzania, puncak tertinggi di Afrika; Carstensz Pyramid di Papua, Indonesia, yang tertinggi di Benua Australia dan Oseania; Elbrus di Rusia, yang tertinggi di Benua Eropa; Gunung Aconcagua di Argentina, yang tertinggi di Amerika Selatan; dan Denali, gunung di Alaska, tertinggi di Amerika Utara.
Untuk gunung, kurang dua puncak lagi: Vinson dan Everest. Plus ke titik paling utara bumi di kutub utara. ”Untuk ekspedisi kutub utara, saya sudah dua kali batal berangkat. Tahun ini via Rusia batal, 2023 via Norwegia juga demikian. Bagi para polar explorers (penjelajah kutub) di dunia, ini adalah tahun keenam ekspedisi kutub utara ditiadakan,” jelasnya.
Penyebabnya beragam. Mulai pandemi Covid-19 pada 2019, kondisi cuaca, sampai pengaruh konflik Rusia dan Ukraina.
Karena itu, dia memutuskan untuk melakukan ekspedisi Gunung Everest, puncak tertinggi di Asia sekaligus dunia, terlebih dulu awal tahun depan. Sambil menunggu kepastian keberangkatan ke kutub utara.
Jelajah Putri
Keaktifan di Pramuka yang pertama mendekatkan Putri dengan alam. Pendakian pertamanya di usia 13 tahun ke Gunung Sibayak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
”Dari suka jadi passion. Lama-lama tertantang naik lebih tinggi lagi. Ingin menginspirasi orang lain, terutama perempuan,” ujarnya.
Kini dia tengah merintis Jelalah Putri, semacam komunitas sosial yang punya misi menggabungkan penjelajahan dan pendidikan.
”Pembelajarannya mencakup bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics) berbasis alam dan lingkungan. Mudah-mudahan kelak terlaksana saya bisa membawa buku-buku seputar STEM untuk anak-anak di kaki gunung,” katanya. (*/c19/ttg/JPG/r5)
Editor : Rury Anjas Andita