Upah layak dan perlindungan kerja menjadi dua hal utama yang ingin dipastikan Disnakertrans NTB saat melawat ke Malaysia. Dalam perjumpaan dengan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bumi Gora di Negeri Jiran, Kadisnaker NTB I Gede Putu Aryadi berulang kali meminta mereka menyampaikan seluruh keluh kesahnya.
Kuala Lumpur
Tepat pukul 14.42 waktu setempat, bus rombongan disnakertrans bersama awak media NTB tiba di Kuala Lumpur, Kepong Berhard, Ladang Tuan Mee SG Buloh Selangor. Saat itu langit Negeri Jiran tengah mendung disertai gerimis. Hamparan hijau ladang sawit perkebunan Tuan Mee terasa menyejukkan mata.
Dengan senyuman hangat, Senior Manager KLK Ladang Tuan Mee Chin Yik Loon bersama jajarannya menyambut kedatangan Kadisnaker NTB I Gede Putu Aryadi beserta rombongan. Tak lama setelah menjabat tangan Chin Yik Loon, di tempat yang telah disediakan, rombongan disambut puluhan PMI asal NTB.
“Assalamualaikum semeton. Berembe kabar, selamat datang di tempat kami bekerja,” kata Jumarep, 34 tahun, salah seorang PMI asal Lombok Tengah pada Lombok Post.
Semua PMI asal NTB yang sebagian besar atau hampir semuanya berasal dari Lombok duduk membaur dengan rombongan kunjungan kerja Disnakertrans NTB. Mereka menceritakan banyak hal. Mulai dari berapa lama mereka bekerja, upah, sampai dengan perlakuan perusahaan pada mereka.
Jumarep menegaskan jika memang selama dua tahun di sana, tak ada satu pun hal buruk yang ia alami. Cerita serupa juga terdengar dari apa yang diungkapkan PMI asal Lombok lainnya di tempat itu. Jika ada yang tengah mereka keluhkan, itu hanya cuaca yang sedang tak bersahabat saja.
“Memang kalau hujan begini agak susah. Kita kadang malas keluar. Jadi kalau reda, langsung keluar. Tapi kalau hujan, ya tunggu dulu reda,” papar Jumarep.
Perusahaan Sawit Ladang Tuan Mee memiliki lahan seluas 2.013 hektare. Total pekerja sebanyak 202 orang. Sekitar 43 persen dari jumlah tersebut berasal dari Indonesia. Sisanya 38 persen dari Banglades, 17 persen India, dan 5 persen Malaysia.
“Dari 43 persen ini, pekerja dari Lombok sebanyak 86 orang pekerja,” kata Senior Manager Perusahaan Sawit Ladang Tuan Mee Chin Yik Loon pada awak media saat memaparkan perusahaannya.
Dalam kesempatan yang sama, Chin Yik Loon menjelaskan jika perusahaannya sudah lama mempekerjakan PMI asal Lombok. Hal itu karena PMI asal Lombok dinilai memiliki budaya kerja keras yang disukai perusahaan.
“Kita suka dengan pekerja dari Lombok. Dan dengan kerelaan hati kita akan jaga dan berikan perhatian kepada para pekerja ini. Sebab pekerja dari Lombok sanggup mengorbankan diri untuk mencari nafkah,” paparnya.
Berbicara upah, PMI asal Lombok dikenal sebagai pekerja yang selalu maksimal dalam meraup Ringgit (mata uang Malaysia, Red). Karena pihaknya memang berkomitmen memberikan jaminan upah sesuai dengan hasil kerja mereka.
“Setiap bulan, paling minim pekerja mendapatkan 2 ribu Ringgit. Bagi yang rajin bisa memperoleh hasil sampai 5 ribu Ringgit. Bahkan ada yang sampai 6-7 ribu Ringgit,” jelasnya.
Selain memastikan jaminan upah bagi para pekerja, Chin Yik Loon juga menuturkan sejumlah aturan perusahaan yang dihajatkan untuk menjaga pekerja agar tidak melakukan hal-hal negatif yang dapat mempengaruhi kinerjanya. Hal itu berupa perilaku hidup.
Salah satu yang diingatkan adalah bermain judi. Perusahaan selalu mengingatkan kepada para pekerjanya agar tidak terjerumus ke dalam lembah hitam perjudian terutama judi online.
“Karena kami menganggap para pekerja di sini seperti keluarga. Jadi kami terus memberi peringatan agar mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan hidup mereka. Kalau ketahuan, kita akan beri peringatan dan kesempatan untuk berubah,” jelasnya dalam bahasa melayu.
Selain itu, perusahaan juga menegaskan jika pihaknya menjamin asuransi bagi seluruh pekerja. Terutama jika terjadi kecelakaan kerja. Di samping itu, keselamatan kerja juga menjadi prioritas utama. Hal itu telah didukung oleh alat yang sesuai SOP. Mulai dari alat pemotong sawit di pohonnya, sampai dengan peralatan angkut yang sudah menggunakan mesin.
Kepala Disnakertrans NTB I Gede Putu Aryadi menuturkan pada para pekerja bahwa tujuan kehadirannya di perusahaan adalah untuk memastikan warga NTB yang saat ini bekerja di Malaysia benar-benar mendapatkan perlindungan.
“Di Kepong Berhard ini, sudah lama kami ketahui, konsep-konsep perlindungan itu jelas. Ada perumahan gratis, ada akses air minum dan ada kaitan dengan bagaimana komunikasi serta interaksi manajemen. Mungkin mirip kami di Disnaker, kalau dulu Disnaker itu tidak mau turun ke perusahaan, kalau sekarang ini kita lebih banyak berkolaborasi, menyelami apa yang menjadi harapan dan kebutuhan para PMI kita. Sehingga perusahaan dan pekerja nyaman,” kata Aryadi.
Selain ke Kepong Berhard, di hari yang lain, rombongan Disnaker NTB juga mengunjungi PMI asal NTB di perusahaan sawit FGB Plantation di Perak. Sama halnya dengan di Ladang Tuan Mee, rombongan juga melihat langsung asrama tempat PMI bermukim, dan menggelar dialog dengan para PMI asal NTB.
Di FGV plantion, dalam sambutannya Aryadi berulang kali meminta para pekerja menyampaikan keluh kesahnya selama bekerja. Ia meminta mereka untuk tidak menutupi apapun di hadapan perusahaan. Karena itulah tujuan dari kunjungan tersebut.
Menurutnya, berangkat secara ilegal atau non prosedural disebabkan oleh tidak adanya kecocokan antara manajamen perusahaan dengan pekerja. Hal itu berupa persyaratan berat dan adanya banyak tekanan di tempat bekerja.
“Namun kita lihat sendiri, hal ini tidak terjadi di Ladang Tuan Mee SG Buloh Selangor, Kuala Lumpur Kepong Berhard. Di sini perusahaan menyelami kondisi pekerjanya. Ini yang kita harapkan ada di semua perusahaan,” jelasnya.
Dari dialog panjang dengan perusahaan, Aryadi menemukan tiga isu utama yang menjadi persoalan PMI asal NTB. Hal itu adalah judi online, minuman keras, dan narkoba. Aryadi berharap perusahaan dapat membantu para pekerja agar terhindar dari perilaku sosial yang negatif tersebut. Dan ia bersyukur, hal itu ia temukan di perusahaan yang dikunjungi.
“Kalau saya selama ini, soal perlindungan tenaga kerja itu selalu tegas sama perusahaan. Dan begitu juga bagi saudara-saudara kita juga kita sudah temui. Mereka menyampaikan keluh kesahnya dan kita juga ingatkan itu. Bekerja ke luar negeri harus fokus untuk mencari nafkah. Jangan aneh-aneh. Ikuti aturan yang ada,” jelasnya. (Fatih Kudus Jaelani/r5)
Editor : Redaksi Lombok Post