LombokPost-Dari Mengwi, Badung, Bali, Yusron lebih memilih menyeberang ke Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (23/3).
Pekerja proyek itu naik travel dan harus mengalami antrean panjang sebelum masuk ke Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, di ujung barat Pulau Dewata.
”Saya naik travel dari Mengwi, jalanan di sekitar Gilimanuk terbilang padat, arus kendaraan terus mengalir. Sampai Banyuwangi langsung sambung naik kereta api bareng pekerja lain,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi setibanya di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Pria 25 tahun itu memilih mudik lebih awal untuk menghindari antrean yang diperkirakan bakal lebih panjang di hari-hari mendekati Idul Fitri.
Dengan puncak mudik diperkirakan terjadi pada 28 Maret.
Penyeberangan Gilimanuk-Ketapang yang menghubungkan Bali dengan Jawa dan Merak-Bakauheni yang mengoneksikan Jawa dengan Sumatera sama-sama mengalami lonjakan penumpang, Minggu (23/3).
Dari Gilimanuk, para pemudik yang hendak menyeberang ke Ketapang datang dengan berbagai kendaraan. Mulai roda dua dan roda empat pribadi, travel, sampai bus.
Tak jarang ada beberapa mobil pikap yang mengangkut orang dan kendaraan untuk menyeberang.
Antrean memanjang sekitar 3 kilometer.
Dari data ASDP Ketapang, jumlah kendaraan roda dua yang menyeberang dari Bali lewat Pelabuhan Ketapang mengalami lonjakan signifikan.
Angkanya mencapai 122 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Begitu juga untuk kendaraan roda empat, ASDP mencatat jumlah kendaraan yang menyeberang ke Jawa naik 75 persen. Yang paling tinggi bus yang naik sampai 228 persen.
Di sisi penumpang, peningkatan juga cukup tinggi.
Data ASDP Ketapang, tercatat ada 44.662 orang dan 13.614 kendaraan campuran yang menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang sejak Sabtu (22/3) malam hingga Minggu (23/3) pagi.
Sedangkan dari arah Ketapang ada 24.594 penumpang dan 4.821 kendaraan yang menyeberang ke Gilimanuk.
Peningkatan cukup drastis ini membuat ASDP langsung menerapkan sistem tiba bongkar berangkat (TBB) sejak Minggu (23/3) dini hari.
Artinya, ada beberapa kapal yang hanya bertugas untuk mengangkut penumpang dari Bali.
Ditinjau Menhub
Di Pelabuhan Merak, Cilegon, pemandangan serupa juga terjadi.
Corporate Secretary ASDP Shelvy Arifin mengungkapkan bahwa sejak Jumat (21/3) atau H-10 hingga Sabtu (22/3) atau H-9 Lebaran, total 88.396 orang dan 20.887 unit kendaraan telah menyeberang dari Jawa ke Sumatera melalui Pelabuhan Merak.
“Jumlah ini meningkat 47 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan dominasi kendaraan roda empat yang mengalami lonjakan signifikan,” ujarnya, sebagaimana dilansir Radar Banten (Jawa Pos Grup).
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudi Purwagandhy bersama ASDP dan pemangku kepentingan terkait meninjau kesiapan Pelabuhan Indah Kiat sebagai buffer zone atau area penyangga untuk memastikan kelancaran arus mudik.
“Jika area parkir di Pelabuhan Merak hampir penuh, kendaraan pribadi roda empat akan segera diarahkan ke Pelabuhan Indah Kiat sebagai area penyangga untuk menghindari antrean panjang,” ujar Dudi saat meninjau pada Sabtu (22/3) dini hari.
Pelabuhan Indah Kiat memiliki luas 93.426 meter persegi dan mampu menampung hingga 2.072 kendaraan kecil.
Selain itu, Jalan Lingkar Selatan juga akan difungsikan sebagai kantong parkir tambahan jika kapasitas di Pelabuhan Ciwandan mencapai batas maksimal.
Cegah Antrean
Mulai pagi ini (24/3), tiket penyeberangan online di sekitar Pelabuhan Ketapang harus bergeser ke radius 2,6 kilometer dari Pelabuhan ASDP Ketapang.
Aturan ini diterapkan sesuai dengan SKB (surat keputusan bersama) tiga dirjen dan kakorlantas.
SKB tersebut tentang Lalu Lintas Jalan serta Penyeberangan Selama Masa Arus Mudik dan Arus Balik Angkutan Lebaran Tahun 2025.
Dalam aturan tersebut, penjualan tiket diatur dalam area buffer zone untuk menghindari kemacetan di pintu masuk dan pintu keluar pelabuhan.
Untuk penjual tiket di wilayah Pelabuhan Ketapang, diletakkan dalam jarak 2,65 kilometer dari titik tengah pelabuhan.
Sisi utara, contohnya, penjualan tiket di Terminal Sri Tanjung. Sedangkan sisi selatan dekat Pabrik Semen Bosowa.
“Sedangkan di sisi Pelabuhan Gilimanuk, penjual tiket harus berada di jarak dua kilometer dari pelabuhan, sebagai acuan di terminal kargo,” kata General Manager ASDP Ketapang Yani Andriyanto. (byu/fre/aif/C1/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida