Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Balai TNGR Sebut Pembatasan Kuota Pendakian untuk Lindungi Kawasan Konservasi Gunung Rinjani

Umar Wirahadi • Jumat, 4 April 2025 | 15:54 WIB
PECINTA ALAM: Antusiasme ratusan pendaki yang hendak mendaki Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada hari pertama pembukaan pendakian, Kamis (3/4).
PECINTA ALAM: Antusiasme ratusan pendaki yang hendak mendaki Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada hari pertama pembukaan pendakian, Kamis (3/4).

LombokPost-Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menyikapi protes sejumlah trekking organizer terkait pembatasan kuota pendakian.

Kebijakan itu sudah dikaji sejak 2017 dan mulai diberlakukan 2019.

Kajian ini melibatkan para pakar dan akademisi terkait keselamatan ekosistem di dalam kawasan taman nasional.

"Ini untuk melindungi kawasan sebagai daerah konservasi yang berkelanjutan," kata Kepala Pengendali Ekosistem Hutan Budi Soesmardi kepada Lombok Post, Jumat (4/4). 

Sebagai kawasan konservasi, jelas dia, Taman Nasional Gunung Rinjani harus tetap terjaga. Sehingga pembatasan kuota pendakian bertujuan untuk menjaga keasrian lingkungan serta menjaga kehidupan flora dan fauna di dalamnya.

"Makanya demi keberlanjutan wisata Rinjani, kita membuat pembatasan. Bukan kita membatasi rezeki orang," tegas Budi. 

Dijelaskan, jumlah pengunjung yang dibolehkan tidak lebih dari 700 orang per hari. Mereka bisa masuk melalui enam jalur pendakian.

Tiga jalur favorit di antaranya adalah Senaru, Sembalun dan Torean. Serta tiga jalur lainnya meliputi jalur Aik Berik, Tetebatu dan Timbanuh. 

Nah, TNGR sudah menetapkan kuota harian di setiap jalur. Jalur Senaru dan Sembalun ditetapkan masing-masing 150 pendaki per hari. Sedangkan jalur Torean, Aik Berik, Tetebatu dan Timbanuh masing-masing 100 orang pendaki per hari. Sehingga dibatasi total 700 pendaki yang dibolehkan setiap hari.

"Jadi TNGR ini bukan tempat wisata seperti yang dikelola perusahaan yang kejar profit. Kami mengutamakan kualitas bukan kuantitas (pengunjung, Red)," papar pria asal Mataram itu. 

Lebih jauh dijelaskan, dari 700 pendaki harian, BTNGR mengatur 60 persen tamu harus dilayani penyedia jasa pendakian dari perusahaan trekking organizer. Atau sekitar 420 tamu. Biasanya mereka adalah tamu asing yang tujuannya khusus untuk mendaki Rinjani. 

Sedangkan 40 persen atau 280 merupakan pendaki jalur umum. Seperti mahasiswa, kelompok pecinta alam serta pendakian kegiatan religi.

"Untuk tiket masuk kami mengatur maksimal empat hari di dalam kawasan. Baik pendaki asing dan tamu lokal umum," tandas Budi. (mar)

Editor : Rury Anjas Andita
#Balai TNGR #Gunung Rinjani #pendakian