LombokPost - Tidak lama lagi, umat Islam merayakan Idul Adha 1446 Hijriah. Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melepas sebanyak 9.743 petugas pemantau hewan kurban untuk memastikan pelaksanaan kurban di seluruh Indonesia berjalan sesuai prinsip Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH).
“Kami ingin memastikan hewan kurban sehat, bebas dari penyakit, dan proses penyembelihan memenuhi prinsip kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan,” jelas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda.
Pelaksanaan pengawasan hewan kurban tahun ini difokuskan pada pemeriksaan dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem, legalitas tempat pemotongan, serta jaminan penerapan prinsip Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) dan Kesejahteraan Hewan (Kesrawan).
Tim pemantau terdiri atas unsur Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, dinas yang membidangi fungsi peternakan di provinsi dan kabupaten/kota, Fakultas Kedokteran Hewan dari 11 universitas, serta asosiasi profesi seperti Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan Perkumpulan Paramedik Veteriner Indonesia (PAVETI).
Untuk wilayah Jabodetabek saja, Ditjen PKH Kementan mengerahkan 146 petugas. Agung mengungkapkan kebutuhan hewan kurban Nasional pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 2.074.269 ekor, meningkat 1,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Serta ketersediaan hewan kurban Nasional tercatat mencapai 3.217.397 ekor, sehingga terdapat surplus sekitar 1,14 juta ekor.
Meski pasokan mencukupi, Agung mengingatkan kewaspadaan terhadap penyakit hewan menular strategis (PHMS) seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), dan antraks tetap menjadi prioritas.
Kementan pun telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan terhadap zoonosis menjelang Idul Adha.
“Kami terus menghimbau agar hewan kurban yang tidak terjual tidak dikembalikan ke daerah asal, melainkan dipotong di rumah potong hewan (RPH) atau dijual di wilayah sekitar untuk mencegah potensi penyebaran penyakit,” pungkasnya.
Dekan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Amrozi menyampaikan dukungan terhadap kegiatan pengawasan dengan rutin mengirim mahasiswa untuk memantau hewan kurban di wilayah Jabodetabek.
“Kami berkolaborasi dengan Kementan, dan ini suatu upaya yang konsisten dan terus menerus semoga terus berlanjut,” jelasnya.
Dengan ini, ada jaminan kehalalan dan kesehatan suatu produk yang dihasilkan dari hewan kurban, sehingga memberikan manfaat yang besar. “Ini luar biasa,” ujarnya.
Direktur Pengawasan Jaminan Produk Halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Budi Setyo Hartoto menekankan pentingnya keberadaan juru sembelih halal serta sinergi berkelanjutan dengan Kementan.
“Kami melanjutkan tugas yang diamanatkan kepada kami,” tegasnya.
Pelaksanaan ini bersinergi yang harus dan terus dilaksanakan dan berkelanjutan. Dari sisi Kementan terkait aspek kesejahteraan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, dan dari BPJPH yaitu aspek kehalalannya.
Dengan pengawasan ketat dan kolaborasi lintas lembaga, Kementan berharap pelaksanaan kurban Idul Adha 1446 H dapat berjalan aman, sehat, berkah, dan sesuai syariat.
Editor : Pujo Nugroho