LombokPost – PT Taspen (Persero) mengingatkan PNS dan pensiunan untuk waspada menjelang pencairan gaji ke-13.
Pencairan tersebut akan dimulai pada Juni 2025.
PT Taspen memiliki alasan sendiri, mengimbau kepada peserta aktif dan pensiunan untuk waspada menjelang pencairan tersebut.
Mengingat, ada saja oknum yang mengatasnamakan PT Taspen akan memanfaatkan momen pencairan tersebut dengan melakukan penipuan.
Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko TASPEN, Diyantini Soesilowati mengingatkan agar selalu waspada terkait modus penipuan yang mengatasnamakan Taspen.
“Untuk peserta TASPEN yang hadir dalam sosialisasi ini agar tetap selalu meningkatkan kewaspadaan dengan selalu memperhatikan sosialisasi dan pengumuman yang kami sampaikan di setiap kesempatan,” papar Diyanti di acara Sosialisasi Upaya Pencegahan Penipuan yang Mengatasnamakan TASPEN, baru-baru ini.
Dalam kesempatan itu, Diyanti pun mengajak seluruh peserta untuk tidak takut membuat laporan bila menemukan oknum tersebut.
“Mari kita sama-sama ciptakan ekosistem layanan yang aman, terpercaya, dan bebas dari penyalahgunaan. Tahan, pastikan dan laporkan,” ujar Diyanti.
Tak dipungkiri, modus penipuan sudah semakin canggih, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
Makanya, Taspen pun mengajak seluruh peserta untuk lebih aktif dalam menyaring informasi dan tidak segan melaporkan setiap potensi penipuan, sekecil apapun.
Di sisi lain, Taspen juga berkomitmen memperkuat sistem perlindungan data para pesertanya.
Perusahaan BUMN ini juga memberikan edukasi digital yang menyeluruh demi menciptakan layanan yang aman, terpercaya dan berintegritas.
Yang perlu diketahui bahwa seluruh layanan Taspen tidak dipungut biaya dan pihaknya pun tidak pernah meminta data pribadi atau uang kepada peserta melalui saluran informal.
Sementara itu, AKBP I Putu Bayu Pati yang turut hadir di acara sosialisasi itu mengatakan rendahnya angka pelaporan dari para peserta Taspen memperbesar ruang gerak para pelaku kejahatan digital.
Makanya, butuh kerjasama yang baik antara institusi dan para peserta untuk saling berbagi informasi, melaporkan indikasi penipuan dan membangun budaya digital yang waspada dan kritis.
AKBP I Putu Bayu Pati menambahkan, tidak menutup kemungkinan sudah banyak korban modus penipuan, tapi masih sedikit yang melapor.
“Mungkin terlihat hanya sebagian kecil kasus yang dilaporkan, namun faktanya jauh lebih banyak masyarakat yang menjadi korban namun memilih diam dan enggan melapor,” paparnya di acara itu.***
Editor : Kimda Farida