Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gara-gara Keseringan Main Ponsel, Anak Usia Dini Bisa Terkena Brain Rot, Cek Dampaknya Di Sini

Diwan Prima • Selasa, 10 Juni 2025 | 15:22 WIB
Ilustrasi brain rot akibat penggunaan Ponsel yang berlebihan, khususnya terhadap anak usia dini.
Ilustrasi brain rot akibat penggunaan Ponsel yang berlebihan, khususnya terhadap anak usia dini.

LombokPost – Ternyata, anak usia dini bisa terkena penyakit busuk otak atau kemacetan otak hanya karena terlalu lama bermain Ponsel.

Bila tidak diantisipasi sejak dini, maka pembusukan otak bisa berdampak terhadap perkembangan anak.

Baca Juga: Heboh Dengan Jalan Tol di NTB, Menteri Pekerjaan Umum Buat Pengumuman Terbaru Tentang Pemberian Tarif Tol

Tidak heran bila pemerintah pun menyoroti masalah brain rot ini. Karena memang, tidak sedikit anak usia dini yang sering menggunakan Ponsel terlalu lama.

Bahkan tidak jarang juga anak-anak yang sudah kecanduan bermain Ponsel, sampai tidak bisa dilarang.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq mengatakan anak usia 0 sampai 6 tahun sudah terbiasa menggunakan gawai. Adapun dampak penggunaan Ponsel yang berlebihan pada anak usia dini yakni mencapai 33,4%.

Baca Juga: Pembangunan Jalan Tol di NTB Masih Sebatas Rencana, Sementara di Jambi Pembangunannya Sudah Capai 80 Persen

Masalah ini menjadi tanggung jawab bersama, agar penggunaan ponsel untuk anak-anak bisa dikurangi.

Mengingat, di usia hingga 6 tahun, belum selayaknya anak-anak menggunakan Ponsel secara berlebihan.

“Kita sedang menghadapi tantangan besar, yakni tsunami digital yang menyerang anak-anak kita sejak usia dini,” kata Fajar.

Baca Juga: Kemenag Geram Syarikah Sembarangan Menurunkan Jemaah Haji Indonesia dari Bus tanpa Memperhatikan Kondisi Kesehatannya

Untuk mengatasi masalah tersebut, Fajar Riza mengungkapkan bahwa selayaknya, pendidikan anak usia dini lebih menekankan pada metode belajar konvensional.

Dengan menerapkan metode belajar konvensional ini, maka anak-anak akan lebih mengedepankan interaksi fisik, seperti membaca buku cetak dan bermain secara langsung.

Tujuannya adalah untuk merangsang kecerdasan anak.

Baca Juga: Malu Sama Thailand, Gubernur NTB Sebut Nusa Tenggara Barat Bisa Berkontribusi Lebih Besar Meningkatkan Ekonomi Syariah di Indonesia
 
“Pola asuh dan interaksi anak dengan orang tua maupun guru telah banyak dipengaruhi oleh media sosial dan penggunaan gawai. Ini berisiko menimbulkan gejala brain rot, yaitu menurunnya stimulasi intelektual, emosional dan sosial akibat paparan digital yang berlebihan,” ungkapnya.

Bagaimanapun, walaupun sudah memasuki tahap yang mengecewakan, pembusukan otak bisa diatasi.

Caranya, orangtua harus membatasi keinginan masing-masing menggunakan Ponsel dengan waktu yang lama.***

Editor : Kimda Farida
#ponsel #Brain Rot #anak usia dini