Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kenaikan Harga Minyak Picu Beban Subsidi BBM, Efek Domino dari Hormuz Bisa Lemahkan Ekspor-Impor RI

Lombok Post Online • Selasa, 24 Juni 2025 | 13:30 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - PELAKU usaha di Tanah Air mengungkapkan, kekhawatiran terhadap potensi lonjakan biaya logistik sebagai dampak ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah.

Khususnya khususnya terkait kemungkinan ditutupnya Selat Hormuz.

Ketua Institut Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI Institute) Yukki Nugrahawan Hanafi menyebut bahwa Selat Hormuz merupakan jalur laut vital yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah ke kawasan Asia Pasifik.

Jika jalur tersebut terganggu, menurut Yukki, distribusi energi global akan mengalami disrupsi signifikan.

“Ini bukan sekadar jalur laut, tapi urat nadi pasokan energi global,” ujar Yukki, Senin (23/6).

Berdasarkan data International Energy Agency, sekitar 20 juta barel minyak mentah, setara 30 persen dari perdagangan global, melintasi Selat Hormuz setiap harinya.

Jalur tersebut juga menjadi rute bagi 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) dunia.

Karena itu, tambah Yukki, gangguan sekecil apa pun di selat tersebut bisa berdampak besar terhadap harga energi, yang kemudian memicu kenaikan biaya logistik secara menyeluruh.

Efek domino tersebut bisa melemahkan efektivitas ekspor-impor serta menurunkan daya saing produk nasional.

Lebih lanjut, Yukki mengingatkan bahwa efek dari potensi blokade tidak hanya akan terbatas di kawasan Timur Tengah.

Spill-over bisa menjalar ke jalur perdagangan utama lainnya, termasuk Laut Merah yang sebelumnya telah mengalami ketegangan serupa pada akhir 2023 hingga awal 2024.

“Kita sudah lihat dampaknya di Laut Merah, biaya angkut melonjak, waktu transit membengkak. Hal serupa bisa terjadi lagi, bahkan lebih parah, jika eskalasi Iran-Israel terus berlanjut,” katanya.

Yukki juga menggarisbawahi bahwa rantai pasok kebutuhan nasional berisiko terganggu jika pelaku usaha logistik melakukan penyesuaian drastis terhadap jalur dan biaya operasional.

“Penting bagi pelaku usaha nasional untuk mulai menyusun langkah antisipatif menghadapi potensi lonjakan ongkos logistik dan disrupsi rantai pasok. Ini bukan hanya isu global, tapi akan sangat terasa di dalam negeri,” pungkas Yukki.

 

TERANCAM DITUTUP: Tampak kapal-kapal berlayar melalui Selat Hormuz dekat Pelabuhan Khasab. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz jika Amerika Serikat kembali melakukan serangan ke Teheran.
TERANCAM DITUTUP: Tampak kapal-kapal berlayar melalui Selat Hormuz dekat Pelabuhan Khasab. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz jika Amerika Serikat kembali melakukan serangan ke Teheran.

Harga Minyak Mentah

Harga minyak mentah mendekati USD 80 per barel setelah Amerika Serikat terlibat dalam serangan ke Iran. Kondisi ini dikhawatirkan akan menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PKB Bertu Merlas menilai, pemerintah perlu mengambil langkah cepat.

“Kenaikan harga minyak pasti akan menambah beban subsidi BBM yang tahun ini dianggarkan Rp 26,7 triliun. Pemerintah harus segera antisipasi agar pertumbuhan ekonomi tidak semakin melambat,” ujar Bertu. (agf/lyn/wan/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#logistik #harga #energi #minyak #Timur Tengah