Senin (30/6), Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melakukan pertemuan dengan Kepala Basarnas Marsdya Mohammad Syafii untuk membahas evaluasi prosedur pengamanan jalur pendakian Gunung Rinjani usai pendaki asal Brasil, Juliana Marins (27), tewas terjatuh.
Raja Juli Antoni mengingatkan masyarakat yang hendak mendaki gunung membuat persiapan matang, perlu persiapan fisik hingga peralatan.
"Naik gunung itu tidak sama dengan ke mal. Jadi kapan mau healing kita bisa ke mal, ke gunung agak lain, situasinya spesifik, perlu ada edukasi, persiapan yang lebih baik," himbau Raja Juli di kantor Basarnas, Jakarta Pusat usai pertemuan Senin (30/6).
Itu sebabnya, Kemenhut akan membuat peringkat bahaya pendakian setiap gunung yang ada di Indonesia. Peringkat itu akan menjadi acuan para pendaki dalam melakukan persiapan.
Misalnya jika belum pernah naik gunung A yang kedaruratannya lebih kecil, maka tidak boleh naik gunung B dan seterusnya.
Raja Juli juga mengingatkan gunung di Indonesia merupakan bagian dari taman nasional. Dia menyebut kawasan gunung biasanya digunakan untuk konservasi dan bukan tempat wisata yang bersifat masif.
"Jadi ini bukan turisme yang bersifat masif yang dikelola oleh Kementerian Kepariwisataan tapi ini sebenarnya intinya adalah konservasi. Bagaimana menjaga alam kita tetapi kita beri ruang pada masyarakat yang ingin menikmati indahnya alam Indonesia. Tapi sekali lagi tidak boleh berjudi dengan keselamatan jadi safety adalah yang pertama, safety first," tegas Raja Juli mengingatkan.
Terlebih lagi Menhut melihat belakangan ini muncul semacam tren ikut-ikutan naik gunung. Ini sangat berbahaya, harusnya naik gunung itu bukan sekadar ikut-ikutan, tapi juga memahami risiko dan beratnya medan pendakian.
"Karena zaman sekarang ini ada FOMO anak-anak muda, fear of missing out (takut ketinggalan). Karena ngetren semua berangkat. Tentu sekali lagi kami terbuka, silakan kunjungi, jelajahi taman nasional. Tetapi dengan bertanggung jawab terhadap keselamatan masing-masing," himbau Raja Juli lagi.
Kasus tewasnya Juliana Marins di jurang Rinjani Lombok bisa menjadi contoh jika wisata gunung itu tran jalan-jalan yang penuh resiko. Jika tidak ada persiapan fisik maka akan mudah kelelahan dan berakibat fatal bahkan bisa meregang nyawa.
Menurut kronologisnya, Juliana Marins melakukan pendakian ke Gunung Rinjani bersama enam orang rekannya dan seorang guide pemandu lokal.
Mereka memilih jalur Sembalun dan pada Sabtu (21/6/2025) dini hari Juliana melanjutkan perjalanan menuju puncak bersama lima pendaki lain dan pemandu.
Saat tiba di titik Cemara Nunggal (mendekati puncak), Juliana dilaporkan merasa kelelahan dan diminta oleh pemandu untuk beristirahat sejenak.
Pemandu kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak bersama kelima pendaki lainnya, meninggalkan Juliana sendirian di titik istirahat.
Saat Juliana tidak kunjung menyusul rombongan, pemandu memutuskan kembali ke lokasi tempat Juliana terakhir beristirahat.
Namun, Juliana tidak ditemukan di sana. Dari titik tersebut, pemandu melihat cahaya senter di bawah jurang yang mengarah ke Danau Segara Anak.
Pemandu menduga cahaya itu berasal dari Juliana yang terjatuh dan segera menghubungi otoritas untuk meminta bantuan.
Editor : Siti Aeny Maryam