Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jenazah Juliana Marins Tiba Di Brasil, Orang Tua Langsung Ajukan Permohonan Otopsi Ulang ke Kantor Jaksa Agung

Rosmayanthi • Rabu, 2 Juli 2025 | 13:29 WIB

Juliana Marina berpose bersama 5 orang temannya dan seorang pemandu lokal saat hendak memasuki kawasan Gunung Rinjani Lombok.
Juliana Marina berpose bersama 5 orang temannya dan seorang pemandu lokal saat hendak memasuki kawasan Gunung Rinjani Lombok.
LombokPost - Jenazah Juliana Marins akhirnya tiba di Pangkalan Angkatan Udara Galeao di Rio de Janeiro pada 1 Juli 2025 waktu setempat.

Juliana Marins adalah pendaki asal Brasil yang mengalami kecelakaan tragis jatuh di jurang Gunung Rinjani Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga tewas pada Sabtu (21/6).

Turun dari pesawat, sejumlah personel Angkatan Udara Brasil tampak langsung menjemput ke pesawat dan membawa peti mati Juliana Marins.

Tiba di Brasil, pihak keluarga langsung ajukan permohonan otopsi ulang ke Kantor Jaksa Agung Brasil

Insiden tewasnya wisatawan asal Brasil bernama Juliana Marins (27) ke dalam jurang saat melakukan pendakian di Gunung Rinjani, Lombok Timur, pada Sabtu (21/6/2025) masih mengundang penasaran publik.

RSUD Bali telah melakukan otopsi pada jasad Juliana Marins dan menemukan banyak terjadi patah-patah tulang sehingga menimbulkan kerusakan pada organ-organ dalam serta pendarahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebab kematian Juliana Marins adalah karena kekerasan tumpul,

Namun pihak keluarga Juliana Marins sepertinya tidak puas dengan kesimpulan otopsi, karena melihat saat jatuh, Juliana Marins masih terlihat hidup, terduduk dan bergerak melalui camera drone turis Malaysia yang diambil usai kejadian.

Akhirnya, setelah jenazah Juliana Marins dipulangkan dari Bali menuju Brasil Senin (30/6) kemarin, pihak keluarga memutuskan untuk melakukan otopsi ulang.

Seperti di kutip dari CNN Brasil, Selasa (1/7/2025), Kantor Jaksa Agung (AGU) Brasil menjelaskan keinginan pihak keluarga Juliana Marins  mengambil tindakan hukum untuk meminta autopsi ulang di Brasil.

Pihak kejaksaan mengatakan pihaknya akan secara sukarela memenuhi permintaan tersebut.

Jenazah Juliana Marins akhirnya tiba di Brasil, dijemput personel Angkatan Udara Brasil, pihak keluarga ajukan otopsi ulang.
Jenazah Juliana Marins akhirnya tiba di Brasil, dijemput personel Angkatan Udara Brasil, pihak keluarga ajukan otopsi ulang.

Permintaan otopsi ulang di Brasil diajukan oleh Kantor Pembela Umum Federal (DPU) melalui pihak keluarga.

AGU mengkomunikasikannya kepada Pengadilan Federal ke-7 Niteroi, Brasil.

Jenazah Juliana Marins akan akan menjalani pemeriksaan baru segera setelah tiba di Brasil, yang dijadwalkan tiba hari ini atau besok.

“Mengingat sifat kemanusiaan dan isi tuntutan tersebut, kami memahami bahwa sikap yang paling tepat adalah bekerja sama sehingga tindakan yang diminta dapat dilaksanakan dengan cepat dan efektif,” ucap Jaksa Wilayah Uni untuk Wilayah ke-2, Glaucio de Lima e Castro.

Mengenai permintaan otopsi ulang ini juga dirilis oleh saudara perempuan korban, Mariana Marins, melalui media sosial.

Netizen pun mulai membahas ulang kronologis jatuhnya Juliana Marins hingga proses evakuasi.

Tewasnya Juliana Marins memicu kemarahan warga Brasil karena dugaan proses evakuasi yang memakan waktu hampir empat hari. Netizen pun membuat tuduhan proses evakuasi lambat dan terkesan ada pembiaran sehingga membuat Juliana Marins akhirnya tewas.

 Di media sosial Brasil mulai muncul banyak desakan otopsi ulang terhadap Juliana Marins. Padahal otopsi jenazah sebenarnya telah dilakukan di RSUD Bali Mandara pada Kamis (26/6/2025) pukul 22.00 WITA.

Dokter forensik RSUD Bali Mandara, dr Ida Bagus Putu Alit, DMF. Sp.F mengatakan hasil otopsi memperilhakan Juliana Marins  meninggal bukan akibat hipotermia saat jatuh di jurang.

Setelah bungkan beberapa lama, orang tua Juliana Marins mau buka suara soal kecurigaan adanya unsur pembiaran yang menyebabkan anaknya meninggal dunia.

Bahkan dengan sangat emosional, Ibunda Juliana, Estela Marins, saat wawancara program Fantastico di TV Globo, menyebut bahwa kematian putrinya bukan sekadar kecelakaan biasa.

“Ini sangat menyakitkan dan membuat kami marah. Orang-orang ini telah membunuh putri saya,” kata Estela dengan suara bergetar.

Saat ditemukan, jasad Juliana Marins penuh luka berdarah, baju celana robek dan sepatunya pun terhempas dari kaki dengan posisi badan tak sejajar.
Saat ditemukan, jasad Juliana Marins penuh luka berdarah, baju celana robek dan sepatunya pun terhempas dari kaki dengan posisi badan tak sejajar.

Sementara sang ayah, Manoel Marins, memaparkan kronologi yang membuat keluarga semakin yakin bahwa terdapat unsur kelalaian berat.

Manoel mengungkapkan, sang pemandu meninggalkan Juliana sendirian di jalur pendakian setelah mengeluh kelelahan.

“Dia ditinggal hanya karena pemandunya ingin merokok. Untuk merokok! Saat kembali, putri saya sudah hilang dari pandangan,” cerita Manoel.

Manoel juga mengungkapkan kronolis kejadian menurut versi yang dia dengar dari saksi mata saat kejadian.

Kejadian bermula sekitar pukul 04.00 pagi. Juliana meminta istirahat karena merasa lelah. Pemandu menyuruhnya duduk di tempat dan kemudian pergi sekitar 5–10 menit untuk merokok. Saat kembali, Juliana sudah tak terlihat lagi.

Dua jam berselang, tepat pukul 06.08 pagi, pemandu mengaku baru melihat Juliana kembali dari kejauhan dan merekam sebuah video untuk dilaporkan ke atasannya. 

Bagi pihak keluarga, kronologis kejadian itu menjadi bukti nyata bahwa keselamatan wisatawan tidak dijaga dengan semestinya.

Manoel juga menemumakan fakta lain yang cukup aneh, dimana perusahaan wisata menjual paket pendakian melewati kios-kios kecil tanpa memberikan informasi akurat tentang tingkat kesulitan jalur.

“Seolah-olah ini jalur ringan, padahal berbahaya,” ucap Manoel.

Keluarga juga menyalahkan pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang dianggap lambat dalam memberikan respons setelah menerima laporan hilangnya Juliana Marins.

“Koordinator taman terlambat menghubungi tim penyelamat,” ungkap Manoel.

Keluarga besar Juliana Marins berharap autopsi ulang ini bisa menjadi titik terang yang sebenarnya yang menyebabkan Juliana Marins tewas. 

Mereka menuntut kejelasan, siapa yang harus bertanggung jawab atas kehilangan putri tercinta mereka.

Tim SAR Gabungan berjibaku mengevakuasi jenazah Juliana Marins
Tim SAR Gabungan berjibaku mengevakuasi jenazah Juliana Marins

“Kami tidak akan berhenti sampai kebenaran terungkap. Putri kami mati karena ditelantarkan,” ucap Estela sambil menangis.

Editor : Siti Aeny Maryam
#rinjani #jurang #orang tua #kronologis #otopsi #Juliana Marins