LombokPost – Mendaki gunung, sebuah kegiatan alam bebas yang kian digandrungi, seringkali disalahartikan sebagai sekadar hobi atau tren semata.
Padahal, menurut pendaki berpengalaman Agam Rinjani, yang baru-baru ini menjadi bintang tamu di Podcast Close The Door bersama Deddy Corbuzier, kegiatan ini menuntut persiapan dan manajemen yang betul-betul matang.
Banyak pendaki yang masih meremehkan aspek ini, berakibat fatal ketika berhadapan dengan ganasnya alam.
Agam Rinjani menegaskan bahwa mendaki gunung bukanlah sekadar ikut-ikutan atau FOMO (Fear Of Missing Out).
"Manajemen pendakian harus betul-betul matang," ujar Agam lugas dalam perbincangannya dengan Deddy Corbuzier.
Ia menyoroti beberapa poin krusial yang kerap diabaikan pendaki.
Diri Sendiri dan Perlengkapan, Kunci Utama Keselamatan
Persiapan dimulai dari diri sendiri. Kondisi fisik dan mental harus prima.
Pendaki wajib memastikan tubuhnya fit untuk menghadapi medan berat dan perubahan ketinggian.
Lebih dari itu, perlengkapan yang memadai adalah investasi keselamatan.
Agam menekankan pentingnya membawa perlengkapan standar yang sesuai dengan kondisi gunung dan cuaca, mulai dari pakaian berlapis, tenda, alat masak, hingga perlengkapan navigasi.
Cuaca ekstrem di alam bebas dapat berubah sangat cepat, dari terik menjadi badai, dari hangat menjadi sangat dingin.
Tanpa perlengkapan yang tepat, pendaki bisa terancam hipotermia atau masalah kesehatan lainnya.
Kalori Bukan Sekadar Makanan, Hitungan yang Menyelamatkan Nyawa.
Salah satu kesalahan fatal yang sering terjadi adalah meremehkan asupan makanan.
Banyak pendaki hanya membawa makanan "secukupnya" tanpa perhitungan kebutuhan kalori yang akurat.
Agam Rinjani menjelaskan bahwa kegiatan fisik intens seperti mendaki gunung membutuhkan energi yang sangat besar.
"Banyak yang cuma bawa makanan secukupnya tanpa menghitung kalori. Ini bisa berakibat fatal," jelas Agam.
Kekurangan kalori dapat menyebabkan tubuh kehilangan energi, mudah lelah, konsentrasi menurun, hingga memicu hipotermia.
Ia menyarankan pendaki untuk lebih fokus pada makanan tinggi kalori seperti karbohidrat kompleks dan lemak sehat, yang menjadi bahan bakar utama tubuh di alam bebas.
Manajemen Pendakian, Keseimbangan Tubuh dan Alam.
Untuk mencapai keseimbangan tubuh dan menghadapi tantangan alam, dibutuhkan manajemen persiapan yang komprehensif.
Agam Rinjani menyerukan agar setiap pendaki memiliki "manajer persiapan" untuk dirinya sendiri.
Ini mencakup banyak aspek yang harus diperhatikan.
Perencanaan rute dan jadwal, dengan memahami medan, perkiraan waktu tempuh, dan lokasi posko atau sumber air.
Logistik makanan dan air, menghitung kebutuhan kalori dan air yang sesuai dengan durasi dan intensitas pendakian.
Pengecekan cuaca, selalu memantau prakiraan cuaca terbaru sebelum dan selama pendakian.
Kesiapan medis, membawa perlengkapan P3K dan memahami penanganan dasar cedera atau kondisi darurat.
Kemampuan navigasi, memiliki kemampuan membaca peta, menggunakan kompas, atau GPS.
Dengan pemahaman dan penerapan manajemen pendakian yang matang ini, risiko kecelakaan dapat diminimalisir, dan pengalaman mendaki gunung akan menjadi lebih aman, nyaman, dan bermakna.
Jadi, sebelum berangkat, pastikan bukan hanya ikut-ikutan, tetapi sudah benar-benar siap dan bertanggung jawab atas keselamatan diri sendiri dan tim. (nur)
Editor : Pujo Nugroho