BNI sempat jadi bank sentral Indonesia sebelum berdirinya Bank Indonesia. Ini kisah heroiknya.
LombokPost – Tanggal 5 Juli 1946 bukan sekadar angka dalam sejarah Indonesia.
Hari ini menandai lahirnya Bank Negara Indonesia (BNI), lembaga keuangan pertama milik Republik Indonesia yang baru berdiri.
Di tengah tekanan Belanda dan kekacauan ekonomi pasca kemerdekaan, BNI hadir sebagai simbol perlawanan ekonomi dan kedaulatan finansial nasional.
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, kebutuhan untuk membangun sistem keuangan sendiri menjadi mendesak.
Rakyat Indonesia masih menggunakan uang gulden Belanda dan "uang NICA", simbol kolonialisme ekonomi.
Saat itulah Margono Djojohadikusumo, ekonom senior sekaligus anggota BPUPKI, tampil ke depan.
Pada 16 September 1945, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta memberikan mandat khusus kepada Margono untuk mendirikan bank milik negara.
Setelah melalui berbagai tantangan, akhirnya pada 5 Juli 1946, BNI resmi berdiri lewat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 2 Tahun 1946.
BNI langsung memegang peran vital: mencetak dan mengedarkan uang nasional pertama, yakni ORI (Oeang Republik Indonesia).
ORI diluncurkan pada 30 Oktober 1946 untuk menggantikan mata uang penjajah dan membiayai kebutuhan negara baru.
Fungsi ini menjadikan BNI bank sirkulasi sekaligus bank komersial, peran yang di era modern dipegang oleh Bank Indonesia dan perbankan umum.
Dalam periode awal revolusi, BNI adalah jantung ekonomi Republik.
Perang Mata Uang: ORI vs Gulden
Keberadaan ORI memicu apa yang disebut sebagai "perang mata uang", antara uang Republik dan gulden Belanda.
Rakyat diminta menolak transaksi dengan uang kolonial. Perang ini bukan sekadar angka, tapi simbol identitas nasional.
BNI berada di garis depan, mendistribusikan ORI dan menyadarkan publik bahwa bangsa merdeka perlu sistem ekonomi sendiri.
Di tengah agresi militer dan blokade ekonomi Belanda, peran ini menjadi benteng ekonomi yang krusial.
Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949, De Javasche Bank—bank sentral peninggalan Belanda—diambil alih dan dijadikan Bank Indonesia.
Fungsi pencetakan uang berpindah, dan BNI pun bertransformasi menjadi bank pembangunan, lalu bank devisa pada 1955.
BNI terus berevolusi:
- 1968: Ditetapkan sebagai Bank Negara Indonesia 1946 melalui UU No. 17.
- 1992: Berubah status menjadi PT (Persero).
- 1996: Jadi bank BUMN pertama yang go public di Bursa Efek Indonesia.
Pendiri BNI, R.M. Margono Djojohadikusumo, dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Ia juga merupakan ayah dari ekonom kawakan Prof. Sumitro Djojohadikusumo dan kakek dari tokoh politik nasional Prabowo Subianto.
Semangatnya mendirikan lembaga keuangan nasional di tengah ancaman Belanda menjadi inspirasi bahwa kedaulatan politik tidak lengkap tanpa kedaulatan ekonomi.
BNI bukan sekadar bank komersial. Ia adalah penanda sejarah bahwa Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri.
Hari lahirnya, 5 Juli, selayaknya masuk dalam deretan hari-hari penting nasional yang patut dikenang dan diperingati.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin