LombokPost - Jumlah pengangguran dari kalangan sarjana terus meningkat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, lebih dari satu juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia belum mendapatkan pekerjaan.
Kondisi itu menjadi perhatian serius Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan.
Ia menilai persoalan ini tidak bisa dibiarkan dan harus segera ditangani secara strategis.
“Pengangguran masih tinggi. Kami sedang bahas treatment-nya bersama Kementerian Investasi,” kata Fauzan saat peluncuran Beasiswa Cendekia Baznas 2025 di Jakarta, Minggu (4/8).
Ia menyebut, saat ini ada dua persoalan besar yang dihadapi dunia pendidikan tinggi.
Pertama, soal pengangguran terdidik atau lulusan sarjana yang tidak terserap dunia kerja.
Kedua, rendahnya angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi yang baru mencapai 31 persen.
“Artinya masih banyak anak-anak usia kuliah yang tidak kuliah,” katanya. Ia menyebut akses pendidikan menjadi kendala utama. Karena itu, menurutnya perlu sinergi antara lembaga negara dan swasta agar akses pendidikan tinggi semakin terbuka, salah satunya melalui beasiswa.
“Dari negara sudah ada KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah,” tambahnya.
Peluncuran Beasiswa Cendekia Baznas 2025 sendiri membuka peluang bagi 5.000 mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Beasiswa itu akan disalurkan ke sekitar 180 kampus di bawah Kemendiktisaintek dan Kementerian Agama (Kemenag).
Fauzan juga menyoroti persoalan kesenjangan tenaga kerja lokal di daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan).
Dalam kunjungannya ke daerah-daerah tersebut, ia mendapati banyak perusahaan besar yang justru lebih banyak mempekerjakan orang dari luar daerah.
“Kami bersama Kementerian Investasi dan pemda akan berusaha menyelesaikan masalah yang menahun itu,” ujarnya.
Menurutnya, putra-putri daerah seharusnya mendapat peluang lebih besar untuk bekerja di wilayahnya sendiri.
Sementara itu, Ketua Baznas Noor Achmad menegaskan, Beasiswa Cendekia merupakan bukti nyata bahwa zakat bisa mendorong kemajuan bangsa.
“Beasiswa Cendekia Baznas bukan hanya bantuan biaya pendidikan, tapi juga investasi SDM,” tegasnya.
Ia mengatakan, program ini berkontribusi dalam pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045, sekaligus sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Noor juga memastikan, pendampingan bagi para penerima beasiswa akan dilakukan secara berkelanjutan.
“Beasiswa ini khusus untuk dalam negeri. Kami juga punya beasiswa untuk ke luar negeri,” tuturnya. (wan/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida