LombokPost - Pengukuran emisi berasal dari data yang dituliskan para pelari dalam aplikasi milik Jejakin, partner yang digandeng Maybank.
Bukan hanya yang membawa kendaraan bermotor, tapi juga mereka yang naik pesawat dan kapal laut.
DENGAN menggunakan kalkulator karbon, jejak karbon yang ditinggalkan peserta Maybank Marathon 2025 bisa terukur. Untuk itu, Jejakin, salah satu perusahaan teknologi yang fokus pada penyediaan solusi untuk perubahan iklim, pun digandeng.
“Pengukurannya dari data yang dituliskan para pelari dalam aplikasi milik partner kami (Jejakin),” terang Head of Sustainability Maybank Marathon Maria Trifanny Fransiska.
Belasan ribu peserta yang mengikuti Maybank Marathon 2025 di Bali United Training Centre (BUTC), Gianyar, pada 22–24 Agustus pun diperkenalkan dengan “alat penghitung” tersebut.
Ini untuk pertama kalinya kalkulator karbon diterapkan dalam ajang lari satu-satunya di Indonesia yang telah berlabel “Elite Label” tersebut.
Langkah itu merupakan bagian dari upaya menuju perlombaan lari elite dunia yang ramah lingkungan pada 2030.
Dasar data pengukuran berasal dari emisi yang dikeluarkan pelari untuk mencapai BUTC. Dimulai dari perjalanan mereka dari tempat tinggal masing-masing. Untuk peserta dari luar Bali, termasuk jarak dari hotel ke race village. Tidak perlu menuliskan alamat hotel, cukup nama hotelnya saja.
Bukan hanya jejak karbon dari peserta yang membawa kendaraan bermotor ke Bali atau warga Pulau Dewata sendiri. Tapi, juga mereka yang datang ke destinasi wisata andalan Indonesia tersebut dengan pesawat terbang atau kapal laut.
Baca Juga: Dua Pentolan Shuffle and Strides Lombok Berhasil Tuntaskan Kuala Lumpur Marathon 2024
Semua Terlibat
Selain pelari yang mengikuti Maybank Marathon, semua jajaran yang terlibat dalam ajang tersebut juga berkontribusi mendukung program Jejak Hijau di Maybank Marathon 2025. Termasuk panitia penyelenggara dan sponsor.
Mereka tinggal datang ke booth Jejakin dan mengisi data di sana. Setelah itu, mereka mendapatkan gelang gratis. “Itu bertujuan meningkatkan kesadaran mereka, sebenarnya. Bahwa mereka, pelari dan semua pihak, harus mulai menyadari bahwa mereka datang ke sini, Bali, ini sudah menghasilkan karbon. Dari sini kami bisa mendapat data yang ke depan akan jadi patokan untuk kami,” tutur Maria.
Dari total sebanyak 13.600 pelari yang berpartisipasi dalam Maybank Marathon, belum semuanya menuliskan data untuk kalkulator jejak karbon. Jumlah itu juga belum termasuk penonton, keluarga pelari, dan pihak sponsor yang datang ke BUTC.
Selama 22–24 Agustus, lebih dari 500 pelari telah berpartisipasi menghitung emisinya dalam program Jejak Hijau ini. Walau sudah dilakukan kampanye secara gencar melalui laman Instagram Maybank Marathon dan saat pengambilan race pack, jumlah pelari yang berpartisipasi masih di bawah 5 persen.
Tapi, ESG Lead Jejakin Dwiputra Ramdani menganggap itu wajar. Sebab, sekarang masih edisi pertama. Saat ini, sifat aplikasi tersebut masih sukarela.
Ke depan, Dwiputra mengharapkan Maybank Marathon “memaksa” tiap pelari untuk mengisikan data yang akan dimasukkan dalam kalkulator jejak karbon itu. “Untuk tahun ini, kami menggunakan sampling dulu di angka 500 orang pelari, dengan margin of error di bawah 5 persen. Namun, harapannya, tahun berikutnya bisa lebih banyak lagi,” tutur Dwiputra. (NARENDRA PRASETYA, Gianyar/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam