LombokPost-Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, membagikan cerita, saat rumah pribadinya di Jakarta menjadi sasaran penjarahan pada akhir Agustus lalu.
Cerita itu ia tulis melalui akun Instagram pribadi @smindrawati. Namun lebih dari sekadar kehilangan materi, Sri Mulyani merasakan luka mendalam ketika mengetahui, salah satu barang yang dijarah adalah sebuah lukisan bunga hasil karya tangannya sendiri, lukisan yang menyimpan makna personal dan emosional tak tergantikan, menurutnya.
Sri Mulyani menceritakan bagaimana seorang pria berjaket merah dan mengenakan helm hitam dengan percaya diri keluar dari rumahnya, memanggul lukisan bunga berukuran besar.
“Lukisan bunga itu, laki-laki berjaket merah memakai helm hitam tampak memanggul lukisan cat minyak bunga di atas kanvas ukuran cukup besar,” tulis Menkeu.
Baginya, lukisan bunga tersebut memiliki nilai emosional yang sangat besar. Ia melukisnya 17 tahun lalu sebagai bentuk perenungan dan kontemplasi diri.
Lukisan itu menjadi bagian penting dari kenangan pribadinya, sama seperti rumah yang ia tempati bersama keluarga dan tempat anak-anaknya tumbuh besar.
“Lukisan bunga yang saya lukis 17 tahun lalu adalah hasil dan simbol perenungan serta kontemplasi diri, sangat pribadi. Seperti rumah tempat anak-anak saya tumbuh dan bermain, sangat pribadi dan menyimpan kenangan tak ternilai harganya,” terangnya.
hilangnya lukisan tersebut mencerminkan kondisi yang lebih luas, yakni lenyapnya rasa aman, kepastian hukum, serta nilai-nilai kemanusiaan di tengah situasi yang terjadi.
“Lukisan bunga itu telah raib lenyap seperti lenyapnya rasa aman, rasa kepastian hukum dan rasa perikemanusiaan yang adil dan beradab di bumi Indonesia,” lanjutnya.
Ia menyoroti bagaimana para penjarah tampak memperlakukan rumah-rumah yang dijarah hanya sebagai target operasi semata.
Ia menggambarkan suasana saat kejadian seperti pesta, di mana penjarahan dilakukan tanpa rasa bersalah, bahkan terekam dan diliput oleh media.
Liputan penjarahan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi viral. Menurut Sri Mulyani, hal itu menciptakan suasana histeris yang intimidatif dan mencerminkan hilangnya norma hukum, akal sehat, serta nilai-nilai kepantasan dan perikemanusiaan.
Ia menilai bahwa tindakan tersebut tidak hanya merusak secara fisik, tetapi juga menimbulkan luka batin dan mengoyak harga diri mereka yang menjadi korban.
“Liputan penjarahan dimuat di media sosial dan diviralkan secara sensasional. Menimbulkan histeria intimidatif yang kejam. Hilang hukum, hilang akal sehat dan hilang peradaban dan kepantasan, runtuh rasa perikemanusiaan. Tak peduli rasa luka yang tergores dan harga diri yang dikoyak yang ditinggalkan. Absurd,” beber mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.
Sri Mulyani juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam kerusuhan yang terjadi pada akhir Agustus lalu. Ia menggambarkan tragedi tersebut sebagai bagian dari sejarah kelam Indonesia.
prabowoBaca Juga: Prabowo Harus Intensif Berkomunikasi Lewat Media Massa, Bukan Hanya Influencer
Ada Affan Kurniawan, Muhammad Akbar Basri, Sarinawati, Syaiful Akbar, Rheza Sendy Pratama, Rusdamdiansyah, dan Sumari.
Menurutnya, dalam setiap kerusuhan, tidak ada pihak yang benar-benar menang. Yang ada hanyalah kehancuran; hilangnya akal sehat, hancurnya harapan, dan runtuhnya fondasi berbangsa dan bernegara, khususnya sebagai negara hukum yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
“Dalam kerusuhan tidak pernah ada pemenang. Yang ada adalah hilangnya akal sehat, rusaknya harapan, runtuhnya fondasi berbangsa dan bernegara kita, negara hukum yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab,” tegasnya.
Karena itu, Sri Mulyani mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menyerah, pada kekuatan yang merusak dan tetap menjaga Indonesia sebagai rumah bersama.
“Indonesia adalah rumah kita bersama. Jangan biarkan dan jangan menyerah pada kekuatan yang merusak itu. Jaga dan terus perbaiki Indonesia bersama, tanpa lelah, tanpa amarah dan tanpa keluh kesah serta tanpa putus asa,” tutupnya.
Editor : Jelo Sangaji