LombokPost - Hujan lebat hingga ekstrem yang mengguyur Bali sejak Selasa (9/9) hingga Rabu (10/9) telah memicu serangkaian bencana alam, mulai dari banjir bandang, pohon tumbang, hingga longsor.
Kondisi ini membuat perayaan Hari Raya Pagerwesi yang jatuh pada hari ini terasa kelabu, dengan sebagian besar aktivitas masyarakat terhenti total.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan cuaca ekstrem masih berpotensi berlanjut, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.
Dampak paling signifikan dari cuaca ekstrem ini adalah lumpuhnya infrastruktur vital.
Jalan nasional Denpasar-Gilimanuk, jalur utama yang menghubungkan Bali bagian barat dan timur, tidak dapat dilalui sejak Selasa petang.
Genangan air setinggi 40 sentimeter menutupi total Jembatan Yeh Nusa di Tabanan, memaksa kendaraan dari kedua arah untuk berhenti total atau memutar balik.
"Kami sudah menunggu berjam-jam, tetapi air tidak kunjung surut. Akhirnya kami terpaksa mencari jalan alternatif yang lebih jauh," kata seorang sopir truk yang terjebak di lokasi.
Di Kabupaten Badung, Underpass Simpang Siur terendam banjir parah dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.
Pemandangan puluhan kendaraan roda empat yang terjebak dan mengapung di tengah genangan menjadi bukti dahsyatnya bencana ini.
Denpasar Terendam Parah, Jembrana Terisolasi. Ibu kota Provinsi Bali, Denpasar, menjadi wilayah yang paling parah terdampak.
Menurut data BPBD Denpasar, tercatat ada 43 titik banjir, dengan genangan air mencapai 2-3 meter di beberapa lokasi. Kondisi ini memaksa sebagian warga untuk mengungsi.
Hujan deras membuat Tukad Badung meluap, merendam rumah-rumah hingga atap di Jalan Maruti, Kampung Wanasari. Kami belum pernah melihat banjir separah ini," ujar seorang warga.
Bahkan, sebuah bangunan tiga lantai di Jalan Sulawesi ambruk akibat derasnya arus banjir. Kawasan ekonomi utama seperti Jalan Gajah Mada, Hasanuddin, dan Diponegoro, serta ruas jalan vital seperti Mahendradatta dan Kebo Iwa Selatan, juga lumpuh total.
Sementara itu, di Kabupaten Jembrana, hujan deras sejak Selasa pukul 14.00 Wita merendam sejumlah desa, termasuk Kaliakah, Banyubiru, Loloan, dan Bale Agung.
Belasan warga dilaporkan telah mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Menurut analisis BMKG, bencana ini disebabkan oleh beberapa faktor. Akumulasi curah hujan harian di beberapa wilayah Bali masuk dalam kategori lebat hingga ekstrem.
Kondisi ini dipicu oleh aktifnya gelombang Ekuatorial Rossby, yang memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif.
Ditambah dengan kelembaban udara yang sangat tinggi, terbentuklah awan tebal yang menyebabkan hujan lebat disertai kilat dan petir.
"Kami memperkirakan dalam tiga hari ke depan, potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih akan terjadi di sebagian besar wilayah Bali," jelas BMKG dalam keterangan tertulisnya.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan meningkatkan kewaspadaan.
Potensi banjir dan longsor masih sangat mungkin terjadi, terutama di daerah-daerah yang telah terdampak sebelumnya.
Editor : Kimda Farida