Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BAHAYA TERSEMBUNYI! Kasus Keracunan MBG Kalbar Jadi Alarm: Pakar Ingatkan Daging Hiu Mengandung Racun Kelas Berat, Ancam Otak Anak!

Nurul Hidayati • Sabtu, 27 September 2025 | 14:53 WIB
MAKAN GRATIS: Dua siswa SMP 2 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kaltim membantu mengangkat MBG untuk dibagikan ke rekan-rekannya.
MAKAN GRATIS: Dua siswa SMP 2 Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kaltim membantu mengangkat MBG untuk dibagikan ke rekan-rekannya.

LombokPost – Kasus dugaan keracunan pada 24 siswa dan 1 guru di SD Negeri 12 Benua Kayong, Ketapang, Kalimantan Barat, setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), memicu kekhawatiran serius terkait keamanan bahan pangan, terutama daging hiu.

Menanggapi insiden ini, Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), Dede Nasrullah, memberi peringatan keras.

Ia menyebut daging hiu, yang diduga menjadi menu MBG, menyimpan sejumlah senyawa berbahaya yang sangat berisiko, khususnya bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan.

Hiu: Gudang Metilmerkuri dan Arsenik Mematikan

Dede Nasrullah, yang juga Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMSurabaya, menjelaskan bahwa hiu sebagai predator puncak di lautan, menjadi tempat akumulasi polutan industri.

"Daging hiu menyimpan sejumlah senyawa berbahaya yang bisa berdampak serius pada kesehatan, terlebih bagi anak-anak," ujar Dede pada Sabtu (27/9/25).

Metilmerkuri (Racun Saraf): Dede menjelaskan, hiu memiliki kandungan merkuri tertinggi di antara ikan laut lainnya, bahkan bisa mencapai 14 parts per million (ppm). Metilmerkuri adalah racun saraf yang sangat aktif secara biologis. Pada anak-anak, paparan senyawa ini mengganggu perkembangan otak, merusak kemampuan bahasa, memori, konsentrasi, hingga motorik halus.

Arsenik (Pemicu Kanker): Selain merkuri, hiu juga menimbun arsenik. Dede menyebut, arsenik sangat berbahaya karena dapat merusak paru-paru dan kulit, bahkan memicu pertumbuhan sel kanker jika masuk ke aliran darah.

Ironisnya, penelitian menunjukkan kadar arsenik tertinggi justru ditemukan pada bagian sirip hiu, yang sering dianggap sebagai makanan istimewa.

Timbal dan Urea: Tambahan Bahaya yang Tak Terhindarkan

Dede menambahkan, risiko konsumsi daging hiu semakin tinggi karena adanya kontaminasi zat berbahaya lainnya:

Timbal (Pb): Studi di Samudra Pasifik menemukan semua spesimen hiu terkontaminasi timbal. Semakin besar dan tua seekor hiu, semakin tinggi akumulasi timbal, yang bisa menyebabkan sakit kepala, kejang, hingga kematian.

Urea: Daging hiu juga mengandung urea dalam jumlah tinggi—limbah nitrogen yang seharusnya dikeluarkan. Meskipun tidak langsung toksik, kadar urea yang tinggi membuat daging tersebut kurang layak dikonsumsi.

Alarm Serius untuk Program MBG

Kasus keracunan di Kalbar ini menjadi alarm serius bagi pelaksana program makanan sekolah.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Mengingat bahaya yang terbukti secara ilmiah, Pakar Kesehatan UMSurabaya ini meminta Pemerintah Pusat dan daerah untuk mengevaluasi total bahan baku MBG.

"Anak-anak sebaiknya tidak dijadikan ‘korban percobaan’ bahan pangan berisiko tinggi. Pemerintah perlu memperhatikan standar keamanan makanan agar kasus serupa tidak terulang," pungkas Dede Nasrullah, menekankan pentingnya menggunakan bahan pangan yang jelas aman dan bergizi.

Editor : Siti Aeny Maryam
#universitas #Makan Bergizi Gratis #Mbg #pakar kesehatan #muhammadiyah #hiu #surabaya