Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) M. Habibullah mengatakan, komoditas nonmigas yang menjadi penyumbang utama surplus dengan AS didominasi oleh tiga sektor.
"Komoditas penyumbang surplus nonmigas pada Januari-Agustus 2025 untuk negara AS didorong oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85), pakaian dan aksesorisnya (HS 61), dan alas kaki (HS 64)," kata Habibullah di Jakarta, Rabu (1/10).
Secara rinci, ekspor mesin dan perlengkapan elektrik menyumbang surplus USD 3,07 miliar. Selanjutnya, pakaian dan aksesoris berkontribusi USD 1,86 miliar, dan alas kaki USD 1,82 miliar.
Kenaikan ekspor ketiga komoditas ini tetap positif, meskipun AS telah menerapkan tarif bea masuk sebesar 19 persen untuk produk asal Indonesia sejak Agustus lalu.
Kinerja Ekspor Indonesia secara Keseluruhan
Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia periode Januari–Agustus 2025 mencapai USD 185,13 miliar, mengalami kenaikan 7,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year-on-Year/YoY).
Ekspor segmen nonmigas tercatat sebesar USD 176,09 miliar (naik 9,15 persen YoY). Sementara itu, ekspor nonmigas ke beberapa negara tujuan utama mengalami peningkatan signifikan.
Peningkatan ekspor tertinggi dicatatkan ke Amerika Serikat sebesar USD 3,5 miliar (20,34%), diikuti Tiongkok USD 3,23 miliar (8,68%), dan Singapura USD 1,5 miliar (31,99%).
Di sisi lain, beberapa negara tujuan utama yang mengalami penurunan nilai ekspor adalah Jepang sebesar USD 2,6 miliar (turun 20,22%), India USD 1,35 miliar (turun 9,72%), dan Australia USD 652,2 juta (turun 20,76%).
Editor : Redaksi Lombok Post