Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bola Api dan Dentuman Gegerkan Cirebon Adanya Dugaan Meteor Jatuh, BMKG dan BRIN Cek Fenomenanya

Nurul Hidayati • Senin, 6 Oktober 2025 | 14:51 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost – Langit Cirebon tiba-tiba menyajikan pemandangan dramatis pada Minggu sore (5/10).

Sekitar pukul 18.30 WIB, warga di berbagai penjuru Cirebon dikejutkan oleh kilatan cahaya terang menyerupai bola api yang melintas cepat dari timur ke barat, diikuti oleh dentuman keras yang bahkan menimbulkan getaran di rumah-rumah.

Fenomena langka ini sontak memicu kehebohan, memicu spekulasi meluas mengenai jatuhnya meteor. Lembaga terkait, termasuk BMKG dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), segera bergerak cepat melakukan penyelidikan untuk mengonfirmasi sumber dentuman dan cahaya misterius tersebut.

Kronologi Kilatan dan Dentuman

Warga dari kawasan Losari, Ciperna, hingga Kecamatan Lemahabang melaporkan melihat bola api tersebut bergerak menyilang sebelum menghilang ke arah barat daya, diduga menuju Laut Jawa.

Kejadian ini dikuatkan oleh catatan sensor. BMKG Cirebon melaporkan adanya getaran yang terekam pada pukul 18:39:12 WIB.

Getaran ini, menurut analisis awal, sangat mungkin terkait dengan gelombang kejut (shockwave) dari benda yang melintas tersebut.

Peneliti BRIN menduga kuat bahwa fenomena ini adalah meteor airburst, yaitu meteoroid yang meledak di atmosfer Bumi pada ketinggian tertentu. Ledakan di udara inilah yang menimbulkan dentuman keras yang terdengar luas dan getaran yang dirasakan hingga ke daratan, tanpa harus menimbulkan kawah.

Analisis awal BRIN menunjukkan bahwa lintasan benda tersebut diarahkan ke Laut Jawa, sehingga fragmennya kemungkinan besar jatuh di laut.

Meteor Draconids: Spekulasi Sumber Benda Langit

Fenomena ini terjadi tepat menjelang puncak aktivitas Hujan Meteor Draconids, yang diprediksi akan mencapai outburst pada tanggal 8 Oktober 2025. Sejumlah pakar menduga bahwa bola api yang melintas di Cirebon ini bisa merupakan bagian dari aktivitas meteor Draconids atau puing tambahan yang kebetulan melintasi jalur orbit Bumi.

Secara fisik, dilaporkan belum ada korban luka atau kerusakan properti signifikan. Dampak terbesar yang terasa adalah dampak sosial: panik, spekulasi, dan penyebaran cepat video di media sosial, yang kini menjadi fokus penyelidikan BMKG dan pihak terkait.

Mengapa Tidak Ada Peringatan Dini?

Ketidakmampuan mendeteksi meteor sekecil ini secara dini bukanlah sebuah kelalaian, melainkan keterbatasan ilmiah.

Ukuran Terlalu Kecil: Meteoroid yang menghasilkan airburst seperti di Cirebon biasanya berdiameter hanya beberapa meter atau kurang. Ukuran ini terlalu kecil dan terlalu redup untuk dideteksi oleh teleskop antariksa yang memantau Near-Earth Objects (NEO), yang umumnya hanya fokus pada benda langit berdiameter puluhan hingga ratusan meter.

Pelindung Alami Atmosfer: Sebagian besar debu kosmik terbakar habis. Fenomena airburst terjadi mendadak akibat tekanan atmosfer, sehingga mustahil diprediksi akurat sebelumnya.

Ilustrasi Meteor Jatuh
Ilustrasi Meteor Jatuh

Peluang Emas untuk Edukasi Sains

Peristiwa dramatis di Cirebon ini telah membuka peluang edukatif yang besar bagi masyarakat. Para pendidik didorong untuk memanfaatkan momen ini guna mengenalkan sains langit kepada siswa—membedakan antara meteoroid, meteor, dan meteorit, serta menjelaskan bagaimana data BMKG digunakan untuk menganalisis lintasan benda langit.

Secara psikologis, peristiwa ini menjadi pengingat penting: meskipun fenomena bola api bisa mengkhawatirkan, masyarakat perlu diedukasi bahwa sebagian besar meteoroid terbakar habis di atmosfer. Ketiadaan peringatan dini bukanlah berarti ancaman besar, melainkan batasan teknologi dalam memantau objek kecil yang datang secara mendadak.

Editor : Siti Aeny Maryam
#BRIN #cahaya #bmkg #meteor #dentuman #cirebon