LombokPost – Di bawah bentangan langit malam yang gelap, tiba-tiba muncul kilatan cahaya terang yang melesat cepat, meninggalkan jejak spektakuler seolah-olah sebuah bintang terlepas dari tempatnya dan jatuh ke Bumi.
Kita mengenalnya sebagai "bintang jatuh" (shooting star). Namun, tahukah Anda? Fenomena indah ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan bintang.
Apa sebenarnya yang terjadi di balik pertunjukan cahaya yang dramatis itu? Jawabannya terletak pada batuan kecil dari luar angkasa yang terbakar habis oleh pelukan atmosfer Bumi.
Bintang Jatuh: Jejak Terang Batuan Kosmik
"Bintang jatuh" adalah istilah puitis untuk meteor, yang merupakan meteoroid pecahan kecil dari asteroid atau komet yang tertarik oleh gravitasi Bumi.
Meteoroid ini memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari sekecil butiran debu hingga berdiameter satu meter. Ketika jalur orbit puing-puing kosmik ini bersinggungan dengan jalur orbit Bumi, mereka tersedot masuk ke atmosfer dengan kecepatan yang luar biasa, mencapai hingga 71 kilometer per detik!
Inilah yang menghasilkan jejak terang:
Gesekan Ekstrem: Meteoroid mulai merasakan gesekan di ketinggian sekitar 100 kilometer di atas permukaan Bumi.
Meningkatnya Suhu: Gesekan dengan udara ini secara drastis meningkatkan temperatur meteoroid hingga mencapai 2.000 derajat Celsius.
Lahirnya Meteor: Panas yang luar biasa ini membuat gas-gas di sekitar meteoroid bersinar terang. Jejak pijar inilah yang kita lihat.
Jika meteoroid tidak sepenuhnya menguap dan berhasil menghantam tanah, ia berganti nama menjadi meteorit.
Serbuan Meteor: Rahasia di Balik Hujan Meteor
Lalu, bagaimana Hujan Meteor mserbuan puluhan bahkan ratusan "bintang jatuh" per jam terjadi?
Jawabannya adalah komet. Komet terbuat dari es dan debu. Saat mendekati Matahari, inti es komet memanas dan menguap, melepaskan partikel-partikel debu.
Partikel debu yang lebih besar membutuhkan waktu lama untuk didorong menjauh dan akhirnya tertinggal di sepanjang lintasan orbit komet.
Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati orbit komet yang dipenuhi oleh jejak debu sisa ini. Bumi secara berkala "menabrak" awan debu ini, menyebabkan serbuan meteor.
Pada hujan meteor biasa, intensitasnya bisa mencapai 10-15 kali per jam.
Pada peristiwa besar, intensitasnya bisa melonjak hingga 50-100 kali per jam!
Menariknya, bagi pengamat, semua meteor dalam sebuah hujan meteor akan tampak muncul dari satu titik yang sama di langit, yang disebut titik radian (radiant point).
Penamaan hujan meteor pun diambil dari nama rasi bintang tempat titik radian itu berada. Misalnya, Hujan Meteor Leonid muncul setiap pertengahan November karena titik radiannya berada di rasi bintang Leo.
Karena terjadi saat orbit Bumi bersinggungan dengan orbit komet, hujan meteor memiliki jadwal kemunculan yang periodik dan dapat diprediksi setiap tahunnya.
Jadi, jika ingin menyaksikan pesta cahaya kosmik ini, bersiaplah untuk menatap langit pada jadwal yang tepat!
Editor : Siti Aeny Maryam