Langkah ini disebut sebagai strategi baru pemerintah untuk menekan inflasi pangan dan menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga bahan pokok.
Peluncuran dua bansos tambahan ini menjadi angin segar bagi masyarakat penerima manfaat.
Tak hanya menunggu pencairan reguler Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), kini mereka juga akan menerima dua jenis bantuan komplementer yang SP2D-nya (Surat Perintah Pencairan Dana) sudah turun.
Langkah ini, menurut Kemensos, bertujuan mengendalikan tekanan inflasi pangan di tingkat rumah tangga dan memperkuat ketahanan gizi masyarakat rentan.
1. Bantuan Beras 10 Kilogram
Bantuan ini hadir sebagai respon atas melonjaknya harga beras yang kini menembus rata-rata Rp 15.000 per kilogram.
Sebanyak 21,38 juta KPM secara nasional diproyeksikan menerima bantuan beras ini, dengan sebagian besar merupakan penerima PKH dan BPNT.
Penyaluran dilakukan melalui dua skema:
- 12 wilayah disalurkan melalui PT Pos Indonesia, meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Maluku, Maluku Utara, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara.
- Sementara daerah di luar wilayah tersebut akan disalurkan melalui kantor desa/kelurahan.
2. Bantuan Daging Ayam dan Telur (Fokus Stunting)
Bantuan ini menargetkan anak balita terindikasi stunting berdasarkan data BKKBN.
Setiap penerima akan memperoleh 3 ekor ayam karkas siap masak dan 33 butir telur, disalurkan untuk tiga periode sekaligus.
Program ini menjadi bagian dari intervensi gizi terarah guna mempercepat penurunan angka stunting di Indonesia.
Update Pencairan PKH dan BPNT
Meski status di aplikasi SIK-NG belum menunjukkan perubahan, proses verifikasi dan validasi (verval) untuk pencairan PKH dan BPNT tahap berikutnya sudah berjalan.
Kemensos meminta KPM bersabar, karena pencairan serentak diprediksi berlangsung pada minggu ketiga atau terakhir bulan ini.
Dengan kombinasi bansos reguler dan tambahan ini, pemerintah berharap tekanan ekonomi di level rumah tangga dapat berkurang dan masyarakat kecil bisa tersenyum kembali di tengah fluktuasi harga pangan nasional. (*)
Editor : Marthadi