LombokPost - Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA) Judha Nugraha menyebut Lombok dan NTB memiliki dua kekuatan besar.
Yakni keindahan alam dan ketangguhan manusianya.
Kedua potensi itu, katanya, bisa menjadi fondasi ekonomi dan diplomasi masa depan Indonesia.
“Lombok sangat indah dan penuh potensi besar untuk dikembangkan bersama,” kata Judha saat mengunjungi Graha Pena Lombok, Rabu (14/10).
Menurutnya, Lombok dan NTB menyimpan peluang luar biasa di bidang pariwisata halal, perdagangan, serta ketenagakerjaan. “NTB adalah provinsi dengan banyak pekerja migran,” ujarnya.
Karena itu, perlindungan dan pemberdayaan tenaga kerja asal daerah ini menjadi prioritas diplomasi Indonesia di Timur Tengah.
Judha menegaskan, pemerintah terus memperkuat koridor migrasi aman agar pekerja migran Indonesia mendapat perlindungan maksimal.
“Migrasi pilihan individu, tapi negara wajib menjamin keselamatan mereka,” tegasnya.
Menurutnya, penempatan pekerja migran tidak bisa dipandang sekadar ekonomi. “Yang penting adalah tata kelola migrasi, agar tenaga kerja tetap memberi manfaat bagi daerah asalnya,” katanya.
Modus TPPO
Ia mengingatkan masih banyak warga tergiur tawaran kerja nonresmi di luar negeri. “Modusnya makin canggih, bahkan melalui media sosial,” ujarnya.
Tawaran semu dengan iming-iming gaji tinggi sering kali menjebak warga menjadi korban perdagangan orang.
Sebagai mantan Direktur Perlindungan WNI di Kemenlu, Judha memahami betul perubahan pola kejahatan lintas batas. Jika dulu perekrutan ilegal dilakukan oleh calo, kini dilakukan lewat jaringan digital.
“Sekarang mereka pakai iklan online, tawar gaji hingga 1.200 dolar,” ungkapnya.
Bahkan, korban bukan lagi masyarakat berpendidikan rendah. Ia mencatat banyak kasus melibatkan lulusan sarjana dan profesional muda yang tertipu oleh janji palsu.
“Pelaku kini menyasar generasi berpendidikan dan melek teknologi,” ungkapnya.
Karena itu, Judha mengajak seluruh pihak, termasuk media, LSM, dan pemerintah daerah, aktif dalam pencegahan. “Kita harus pahami modusnya agar tidak terjebak,” tambahnya.
Judha juga menyoroti maraknya “success story” palsu yang sengaja disebarkan pelaku memancing korban.
“Banyak kisah sukses itu rekayasa untuk meyakinkan calon pekerja,” katanya.
Menurutnya, masyarakat perlu lebih kritis karena disinformasi sering digunakan untuk menutupi praktik perdagangan orang.
Ia menegaskan, kasus pekerja nonresmi jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang berangkat melalui jalur legal.
“Lewat jalur resmi, risiko jauh lebih kecil karena ada perlindungan negara,” jelasnya.
Namun, stigma terhadap birokrasi dan biaya masih menjadi tantangan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan proses penempatan mudah, murah, cepat, dan transparan.
“Tinggal bagaimana upaya kita agar biaya seminimal mungkin,” katanya.
Kedekatan dengan Gubernur NTB
Dalam kunjungan ke Lombok, Judha juga bertemu Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang disebutnya sebagai sahabat sekaligus mentor dalam diplomasi.
“Pak Iqbal itu guru inspirator kami,” ucapnya.
Ia menceritakan hubungan panjang mereka sejak bertugas bersama di Malaysia antara 2013–2016.
Saat itu, Iqbal menjabat Direktur Perlindungan WNI, posisi yang kemudian digantikan Judha setelahnya.
“Kami belajar banyak dari beliau tentang bekerja dengan hati,” katanya.
Menurut Judha, filosofi “hadir di tengah masyarakat” yang ditanamkan Iqbal menjadi pedoman dalam menjalankan diplomasi perlindungan warga negara.
“Mas Iqbal mengajarkan diplomasi bukan hanya urusan meja, tapi nurani,” ujarnya.
Keduanya juga memiliki kesamaan latar pendidikan di Jogjakarta.
“Kami sama-sama kuliah di Jogja,” ungkapnya sambil tersenyum.
Jejak Panjang Perlindungan WNI
Judha resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Dubes RI untuk UEA pada 25 Agustus 2025.
Sebelumnya, ia dikenal luas karena kiprahnya di bidang perlindungan WNI dan hukum internasional.
Sebagai Direktur PWNI, Judha terlibat langsung dalam berbagai misi kemanusiaan, antara lain, evakuasi WNI di Wuhan saat awal pandemi Covid-19; pemulangan dari Sudan, Ukraina, Gaza, dan wilayah konflik lainnya; penanganan korban perdagangan orang di Myanmar dan Kamboja.
Berikutnya, pendampingan WNI terancam hukuman mati di luar negeri.
“Tugas kami menyelamatkan warga dari situasi berbahaya, sesuai amanat undang-undang,” tegasnya.
Ia menjelaskan, evakuasi besar-besaran saat covid menjadi pengalaman paling berat.
“Kita harus pastikan pemulangan aman, tanpa menambah risiko penyebaran penyakit,” ujarnya.
Amanah Baru di UEA
Kini, ia membawa semangat yang sama ke Abu Dhabi. Menurutnya, UEA adalah mitra strategis Indonesia di bidang energi, investasi, pariwisata, dan perlindungan tenaga kerja.
“Kami ingin hubungan bilateral ini berdampak langsung bagi masyarakat daerah, termasuk NTB,” katanya.
Judha melihat peluang besar untuk mempromosikan Lombok dan NTB sebagai destinasi wisata halal unggulan di Timur Tengah.
“Pasar UEA sangat potensial untuk wisata halal NTB,” ujarnya.
Selain sektor pariwisata, ia ingin membuka ruang kerja sama ekonomi berbasis komunitas diaspora.
“Kami ingin diaspora menjadi jembatan investasi untuk daerah asalnya,” katanya.
Bagi Judha, Lombok bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga simbol ketangguhan dan harmoni sosial.
Ia menilai masyarakat NTB memiliki semangat kerja tinggi yang layak diapresiasi dunia.
“Orang Lombok pekerja keras dan punya hati yang tulus,” tuturnya.
Ia berharap, di bawah kepemimpinan Iqbal, NTB mampu menjadi contoh bagaimana diplomasi daerah dapat memperkuat posisi Indonesia di dunia.
“Pak Iqbal punya visi global tapi tetap membumi,” katanya.
Judha menutup kunjungannya dengan optimisme.
Ia yakin hubungan antara UEA dan NTB akan semakin erat melalui kolaborasi pariwisata halal, investasi energi, dan penguatan perlindungan pekerja migran.
“Kami ingin Lombok menjadi wajah damai Indonesia di dunia Arab,” pungkasnya. (zad/r9/r3)
Editor : Kimda Farida