LombokPost - Pendamping dari Komunitas Sadar Belajar menjelaskan apa yang terjadi di pertandingan dengan bantuan tactical board agar anak-anak difabel netra bisa berimajinasi sebesar apa lapangan dan di mana letak bolanya.
Mereka siap berbagi ilmu jika diminta klub dan komunitas lain.
Alif Arahkan Tangan Azka di Tactical Board, Sesuai Arah Bola di Lapangan.
MATANYA memang tak bisa melihat. Tapi, Azka begitu antusias “menonton” laga PSS Sleman versus Kendal Tornado FC di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jogjakarta.
Dia tak pernah berhenti bertanya kepada Alif yang membisikkan bagaimana jalannya pertandingan pada Minggu (12/10) lalu. “Jadi, pemain sayap itu harus lincah?” tanya Azka suatu kali di tengah laga Championship tersebut kepada Alif, seperti dilihat Jawa Pos dalam video dokumentasi Komunitas Sadar Belajar.
Dengan bantuan tactical board atau papan taktikal bermodel lapangan sepak bola, Alif dengan sabar mengarahkan tangan Azka ke beberapa sudut. Mengikuti arah bola dalam pertandingan.
“Iya, pemain sayap itu harus lincah dan cepat,” jawab Alif.
Azka salah seorang anak difabel yang diajak Komunitas Sadar Belajar menonton pertandingan PSS melawan Kendal Tornado FC. Total ada 19 bocah penyandang disabilitas lainnya yang dibawa ke Maguwoharjo sore itu, dan tak cuma difabel netra.
“Dalam Sadar Belajar, ada program namanya Jagat Jemari. Program yang mengajak anak-anak difabel netra melakukan aktivitas di berbagai fasilitas umum,” ungkap Achmad Novrizal, pendiri Komunitas Sadar Belajar kepada Jawa Pos yang mengontaknya dari Surabaya, Rabu (15/10) pekan lalu.
Ini untuk kali pertama program Jagat Jemari dijalankan di stadion sepak bola. Tapi, kalau di sejumlah fasilitas umum lain sudah pernah.
Pilihan menonton di stadion diambil karena saat diceritakan soal sepak bola, anak-anak difabel netra sangat antusias. “Kebetulan saya Sleman Fans, jadi saya ajak menonton pertandingan PSS,” ujarnya.
Miniatur Lapangan
Konsep Jagat Jemari adalah teman bisik. Kegiatan yang sebenarnya sering dilakukan kepada difabel netra saat menonton film atau kegiatan lainnya.
“Akhirnya coba adaptasi di sepak bola dengan menjelaskan jalannya pertandingan dengan bantuan tactical board, semacam miniatur lapangan. Jadi, anak-anak bisa berimajinasi sebesar apa lapangan dan di mana bolanya,” terangnya.
Sebelum akhirnya mengajak mereka ke stadion, Achmad menyebut komunitasnya berkomunikasi dulu dengan dua kelompok suporter di Sleman: Slemania dan BCS. “Alhamdulillah, responsnya positif. Manajemen PSS juga mendukung penuh kegiatan ini,” paparnya.
Menurut Achmad yang menjadi masalah utama bagi anak-anak difabel, khususnya difabel netra, adalah fasilitas. Tidak semua stadion ramah kepada mereka.
Di Maguwoharjo, lanjutnya, karena baru direnovasi, jadi aksesnya tersedia. Tempat parkir ke tribun, misalnya, juga tidak jauh. “Tapi di stadion lain? Harusnya sudah jadi perhatian,” ungkapnya.
Tawaran dari Klub Lain
Sadar Belajar bahkan juga mendapat tawaran dari klub Super League, kompetisi sepak bola strata di atas Championship alias yang teratas di tanah air, untuk melakukan hal serupa di stadion mereka. Bukannya tidak mau, tapi untuk saat ini mereka memilih fokus pada pertandingan kandang PSS. Selain faktor kedekatan, juga karena jaminan keamanan untuk anak-anak difabel netra.
“Sebenarnya yang kami lakukan bisa kok dilakukan di stadion berbeda, oleh kelompok atau komunitas lain. Kami siap membagi ilmu jika memang diminta,” katanya.
Alumnus Universitas Negeri Yogyakarta itu menambahkan, anak-anak difabel tidak perlu dikasihani. Mereka hanya perlu diberi akses untuk bisa sama-sama menikmati sepak bola seperti masyarakat pada umumnya.
Seperti Azka dan kawan-kawannya pada Minggu sore lalu itu. Dia bergembira, tegang, dan berteriak sebagaimana ribuan orang lainnya di Maguwoharjo.
“Waduuuh,” ujarnya ketika Alif membisikkan bahwa sebuah serangan PSS dihentikan kiper lawan. (Farid S. Maulana, Surabaya/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida