LombokPost – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kabar positif mengenai kondisi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) yang digelar di Istana Negara, Presiden menegaskan bahwa Indonesia berhasil mempertahankan stabilitas dan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.
Presiden Prabowo menyoroti situasi dunia yang tidak menentu, di mana rantai pasok komoditas strategis seperti energi dan pangan sangat rawan terpengaruh.
"Alhamdulillah kita mampu menjaga pertumbuhan ekonomi masih tetap tinggi dibandingkan seluruh dunia, kita berada di 5 persen,” ucap Presiden.
Ia menegaskan, capaian ini merupakan hasil kerja keras dan kewaspadaan seluruh jajaran pemerintah.
Kepercayaan Pasar dan Inflasi Terendah di G20
Presiden juga memaparkan sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan fundamental kuat.
Pemerintah berhasil menjaga defisit APBN di bawah 3 persen dari PDB dan mengendalikan inflasi di kisaran 2 persen, sebuah angka yang diklaim sebagai salah satu yang terendah di antara negara-negara G20.
"Ini jangan dianggap remeh. Banyak negara dengan industri bagus tapi inflasinya tinggi. Kita justru berhasil menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar,” kata Presiden.
Kepercayaan pasar juga tercermin dari capaian pasar modal nasional. Presiden mengapresiasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah, menembus angka 8.000.
Capaian ini, menurut Presiden, merupakan bukti keyakinan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Presiden Prabowo menekankan, kunci kekuatan fundamental bangsa adalah pangan, energi, dan air. "Asal kita sadar ini, kita fokus ini, kita yakinkan kebijakan-kebijakan, kita menjamin, kita mampu memproduksi dan distribusi pangan dengan baik, dengan efisien energi juga demikian mampu mengelola air kita kuat,” ujarnya.
Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran Capai Angka Terendah
Dari sisi kesejahteraan rakyat, Presiden Prabowo turut menyampaikan kabar baik mengenai penurunan signifikan pada angka kemiskinan dan pengangguran.
Tingkat kemiskinan nasional menurun menjadi 8,47 persen, yang merupakan angka terendah sepanjang sejarah Indonesia.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka juga turun menjadi 4,76 persen, angka terendah sejak krisis 1998. Meskipun demikian, Presiden mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh berpuas diri.
“Sekali lagi kita tidak boleh puas karena 4,76 persen dari 287 juta orang itu angka yang cukup besar... Kita paham bahwa tingkat pengangguran ini sangat meresahkan bagi mereka yang sangat butuh pekerjaan, kita paham karena itu kita bekerja keras,” tutup Presiden.
Presiden menegaskan komitmen untuk terus mencari solusi bagi mereka yang membutuhkan pekerjaan.
Editor : Pujo Nugroho