Ia secara serius mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan tawaran pekerjaan di negara tersebut tanpa melalui prosedur resmi dan pemahaman yang utuh mengenai migrasi kerja ke luar negeri.
“Kita terus mengkampanyekan dan mensosialisasikan bahwa Kamboja bukan tempat aman untuk bekerja, buat pekerja migran kita. Sehingga Kamboja ini, Kementerian P2MI sudah berkali-kali membuat rilis bahwa Kamboja bukan tempat tujuan untuk pekerja migran, karena belum ada sistem yang menjadi bagian dari perlindungan utama, itu Kamboja,” kata Cak Imin kepada wartawan, Selasa (28/10).
Jaminan Perlindungan dan Imbauan Komunikasi Aktif dengan KBRICak Imin menjelaskan, bagi warga negara Indonesia yang sudah terlanjur bekerja di Kamboja, pemerintah akan tetap melakukan langkah-langkah perlindungan secara sistematis.
Upaya ini dilakukan melalui koordinasi lintas sektor, terutama oleh Kementerian P2MI yang bertanggung jawab terhadap pemberdayaan dan perlindungan PMI.
“Kalau sudah terlanjur di sana maka harus ada upaya-upaya sistematis, perlindungan yang oleh P2MI dan seluruh lintas sektor,” ujar Cak Imin.
Ia juga mengingatkan agar para PMI di Kamboja terus menjalin komunikasi aktif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.
“Kedutaan Besar Republik Indonesia di sana setiap saat buka, saya sendiri pernah lakukan cek ke sana, setiap saat membuka diri untuk terus mencari solusi yang tengah dihadapi warga kita,” tuturnya.
Menurut Cak Imin, jumlah warga Indonesia di Kamboja saat ini mencapai sekitar 100 ribu orang, baik yang bekerja di sektor formal maupun informal.
Keberadaan WNI yang banyak ini juga tercermin dari banyaknya makanan khas Indonesia di Kamboja, seperti soto Lamongan, rujak cingur, hingga pecel Madiun.
Lebih lanjut, Menko PM berpesan kepada seluruh masyarakat yang berencana bekerja di luar negeri, khususnya Kamboja, agar memahami proses migrasi kerja secara menyeluruh dan memilih jalur resmi yang difasilitasi pemerintah.
“Nah yang ketiga, sekali lagi kepada seluruh warga bangsa yang mau bekerja ke luar negeri, utamakan melalui pemahaman yang utuh migran center di tempat masing-masing untuk tidak salah pilih,” pungkasnya.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post