Perubahan ini secara signifikan meningkatkan potensi terjadinya bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, genangan, dan tanah longsor.
Menurut keterangan resmi BMKG, kondisi atmosfer di berbagai wilayah kini relatif labil akibat faktor lokal, yang meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat/petir dan angin kencang.
"Mempertimbangkan peningkatan potensi hujan dalam waktu mendatang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, genangan, dan longsor yang berdampak pada aktivitas harian maupun transportasi," tulis keterangan resmi BMKG, dikutip Selasa (28/10).
Sebagai langkah mitigasi, BMKG menyarankan masyarakat untuk menjaga saluran drainase agar tidak tersumbat. Selain itu, warga diharapkan waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, seperti hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir.
Penting juga untuk menjauhi wilayah terbuka saat petir terjadi, serta menjauhi pohon dan infrastruktur rapuh saat terjadi angin kencang.Puncak Musim Hujan Diprediksi November 2025 - Februari 2026, BMKG menjelaskan bahwa awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi secara serentak.
Baru 43,8 persen dari zona musim (ZOM) yang telah memasukinya pada dasarian kedua Oktober 2025.
Musim hujan diprediksi akan meluas secara bertahap ke wilayah selatan dan timur.Adapun puncak musim hujan, BMKG memprediksi akan terjadi pada November hingga Desember 2025 di Indonesia bagian barat, dan pada Januari hingga Februari 2026 di Indonesia bagian selatan dan timur. BMKG menegaskan,
"Siap siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, yang dapat terjadi kapan saja. Tetap tenang dan siaga menghadapi perubahan cuaca ekstrem." tutupnya.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post