Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Marsinah Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional 2025, Kisah Pilu Pejuang Buruh yang Gugur di Tengah Perjuangan

Alfian Yusni • Selasa, 11 November 2025 | 11:14 WIB

Nama Marsinah kini resmi disejajarkan dengan pahlawan-pahlawan bangsa yang mengorbankan hidup demi tegaknya nilai kemanusiaan. (Foto: jawa pos)
Nama Marsinah kini resmi disejajarkan dengan pahlawan-pahlawan bangsa yang mengorbankan hidup demi tegaknya nilai kemanusiaan. (Foto: jawa pos)
 

LombokPost - Pejuang buruh Marsinah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto pada upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).

Penghargaan ini diberikan melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 bersama sembilan tokoh lainnya, termasuk Presiden ke-2 RI Soeharto.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa gelar Pahlawan Nasional merupakan penghormatan tertinggi negara atas jasa luar biasa para tokoh yang berjuang untuk persatuan, keadilan, dan kemajuan bangsa Indonesia.

Nama Marsinah kini resmi disejajarkan dengan pahlawan-pahlawan bangsa yang mengorbankan hidup demi tegaknya nilai kemanusiaan.

Kisah Hidup Marsinah, Pejuang Buruh dari Nganjuk

Marsinah lahir di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969, dari pasangan Mastin dan Sumini.

Ia dibesarkan oleh nenek dan bibinya setelah ditinggal orang tua, hidup sederhana sambil membantu berjualan makanan ringan untuk menambah penghasilan keluarga.

Meski hidup dalam keterbatasan, semangat belajar Marsinah tak pernah padam. Ia menempuh pendidikan di SDN Karangasem 189, lalu ke SMPN 5 Nganjuk dan SMA Muhammadiyah Nganjuk, sebelum akhirnya berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.

Tahun 1990, Marsinah bekerja sebagai buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik arloji di Sidoarjo. Di tempat inilah ia dikenal sebagai sosok berani yang memperjuangkan hak-hak pekerja, terutama soal upah dan kondisi kerja.

Marsinah menjadi simbol perlawanan buruh perempuan Indonesia, yang tak gentar menuntut keadilan di tengah tekanan kekuasaan.

 

Tragedi 1993: Hilangnya Marsinah dan Terungkapnya Fakta Mengerikan

Pada 5 Mei 1993, Marsinah menghilang setelah mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan nasib rekan-rekannya yang dipanggil aparat.

Empat hari kemudian, jenazah Marsinah ditemukan di Nganjuk dalam kondisi mengenaskan.

Berdasarkan hasil autopsi, Marsinah meninggal akibat penganiayaan berat dan diduga mengalami kekerasan seksual.

Kasus pembunuhan Marsinah langsung mengguncang Indonesia. Delapan petinggi PT CPS ditangkap tanpa prosedur hukum yang jelas.

Salah satunya adalah Mutiari, Kepala Personalia yang juga mengalami penyiksaan selama interogasi di Kodam V Brawijaya.

Belakangan, pengacara Trimoelja D. Soerjadi mengungkap adanya rekayasa penyidikan oleh oknum aparat untuk mencari kambing hitam.

Putusan Pengadilan dan Rekayasa Kasus Marsinah

Sepuluh orang sempat ditetapkan sebagai tersangka, termasuk satu anggota TNI. Salah satu pekerja, Suprapto, disebut membawa Marsinah ke rumah pemilik pabrik Yudi Susanto di Surabaya sebelum akhirnya Marsinah dibunuh oleh Suwono, seorang satpam perusahaan.

Meski di pengadilan sempat dijatuhi hukuman berat, Yudi Susanto dan kawan-kawan akhirnya bebas murni setelah Mahkamah Agung RI menyatakan tidak ada bukti kuat yang mengaitkan mereka dengan pembunuhan.

Namun, putusan bebas itu justru memunculkan kecurigaan publik bahwa penyelidikan kasus Marsinah direkayasa dan belum tuntas hingga kini.

Baca Juga: China Resmikan Kapal Induk Fujian, Tercanggih dan Terbesar Sepanjang Sejarah Militer Negeri Tirai Bambu

 

Simbol Perlawanan dan Keadilan Sosial

Kini, setelah lebih dari tiga dekade, Marsinah akhirnya diakui negara sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Penghargaan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tapi juga pengakuan terhadap perjuangan kaum buruh perempuan Indonesia yang berani menuntut keadilan sosial.

Gelar Pahlawan Nasional Marsinah menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh dan perempuan Indonesia untuk keadilan masih harus diteruskan.

Marsinah telah gugur, namun semangatnya hidup di hati para pekerja yang terus memperjuangkan hak dan martabatnya. (***)

Editor : Alfian Yusni
#simbol perlawanan buruh #marsinah #gelar pahlawan nasional