Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengonfirmasi data petugas Pos Ranupani mencatat terdapat 187 orang di kawasan Ranu Kumbolo saat Semeru meletus. Jumlah tersebut terdiri atas 129 pendaki, satu petugas, dua saver, 24 anggota PPGST (pemandu pendakian Gunung Semeru terdaftar), 25 pemandu gunung, dan enam personel dari Kementerian Pariwisata.
Sejak Kamis (20/11) pagi pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, ratusan orang tersebut mulai dievakuasi dari Ranu Kumbolo menuju Ranupani. Ranu Kumbolo merupakan danau yang sering menjadi lokasi berkemah atau beristirahat bagi mereka yang menuju atau turun dari Puncak Mahameru.
Baca Juga: Status Gunung Semeru Naik ke Level Siaga, Tahun Ini Semeru Sudah Meletus 2.802 kali
“Sebenarnya mereka tidak terjebak, erupsi Gunung Semeru tidak berdampak pada kawasan tersebut. Tapi, mereka yang berada di sana baru dievakuasi mulai Kamis (20/11) pagi untuk menjaga keamanan mereka,” ucap Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha, seperti dikutip dari Radar Jember Grup Jawa Pos, Rabu (19/11).
Menurut Rudijanta, proses evakuasi baru bisa dilakukan pada hari Kamis karena kondisi medan yang menantang, jalan licin akibat hujan, dan kondisi alam yang gelap gulita saat Semeru meletus pada Rabu (19/11) petang. Ia menambahkan, secara historis, material erupsi Semeru tidak pernah mencapai Ranu Kumbolo, yang berada di sisi utara.
Hingga Rabu (19/11) malam pukul 19.00 WIB, status Semeru masih Level IV atau Awas, meskipun aktivitas erupsi dipastikan telah berakhir pada Rabu (19/11) pukul 18.11 WIB. Status siaga dipertahankan untuk mengantisipasi potensi aktivitas lanjutan.
Baca Juga: Gunung Berapi Indonesia di Tahun 2025, Semeru Paling Aktif dengan Ribuan Letusan!
Demi menjaga situasi tetap terkendali, Rudijanta menambahkan bahwa jalur pendakian ditutup sejak Rabu (19/11) hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Penetapan Status Tanggap Darurat
Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar menetapkan status tanggap darurat erupsi selama tujuh hari, terhitung mulai 19–25 November. Langkah ini diambil untuk memastikan proses koordinasi antarlembaga berjalan lebih efektif.
“Evakuasi juga bisa dilakukan dengan cepat dan warga tetap mendapatkan perlindungan yang tepat,” kata Indah saat mendampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau lokasi terdampak erupsi.
Beberapa daerah aliran sungai yang terdampak material abu vulkanik, seperti Kajar Kuning dan Curah Kobokan, terus mengeluarkan kepulan asap putih pada pagi hari. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengimbau warga untuk waspada. "Statusnya masih awas, khawatir terjadi erupsi susulan," katanya.
Editor : Redaksi Lombok Post