Hal tersebut disampaikan Australia’s Assistant Minister for Foreign Affairs and Trade sekaligus Assistant Minister for Immigration, Hon Matt Thistlethwaite MP, dalam dialog bersama media pada rangkaian Trade and Economic International Media Visit Sydney–Melbourne, Senin (19/11).
Matt menilai Indonesia memiliki posisi serupa dengan Australia, yakni sama-sama memiliki cadangan mineral kritis yang besar namun sebagian masih diekspor untuk diolah di luar negeri. “Kami melihat peluang kerja sama yang kuat. Australia punya kebijakan Future Made in Australia yang mendorong perusahaan asing berinvestasi dalam fasilitas pengolahan lanjutan dan mengembangkan industrinya di Australia,” ujarnya.
Baca Juga: Gubernur NTB Ingin Akhiri Ironi Desa Miskin di Lingkar Tambang Emas
Australia, lanjutnya, justru ingin memperkuat hubungan pada sejumlah bidang prioritas di Indonesia, termasuk energi terbarukan, agrobisnis, dan infrastruktur. Ia melihat peluang besar bagi kedua negara untuk mengembangkan industri-industri tersebut secara lebih agresif.
Peluang investasi ini kian terbuka karena Australia menyiapkan dana investasi jumbo. Melalui kebijakan Invested, pemerintah menyediakan dana $\text{AUD }2$ miliar khusus untuk pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan fokus utama pada proyek infrastruktur.
Selain itu, terdapat sumber dana lain yang tak kalah besar. “Dana pensiun dan institusi keuangan Australia memiliki aset $\text{AUD }4,4$ triliun,” ungkap Matt. Selama ini, porsi terbesar dialokasikan ke Amerika Utara dan Eropa. Pemerintah kini mendorong agar sebagian dana tersebut dapat masuk ke Asia Tenggara.
Pada sektor energi terbarukan, Matt menyebut Indonesia dan Australia memiliki keunggulan yang sama, yakni tenaga surya. “Ini keunggulan kompetitif kedua negara,” katanya. Australia siap membantu Indonesia melalui transfer teknologi hingga investasi di sektor ini.
Editor : Redaksi Lombok Post