LombokPost--Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dengan tegas menyatakan tidak akan mengundurkan diri dari posisinya sebelum masa jabatannya berakhir.
Pernyataan ini disampaikannya melalui laman sosial X, menanggapi berbagai spekulasi dan kritik yang beredar.
“Sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mundur dari Ketua Umum PBNU. Saya mendapat mandat 5 tahun memimpin NU, karena itu akan saya jalani selama 5 tahun. Insya Allah, saya sanggup,” tulis Gus Yahya, seperti dikutip dari akunnya.
Terkait isu tentang adanya edaran dari Risalah Harian Syuriah PBNU yang dikabarkan dapat memundurkan Ketua Umum, Gus Yahya menegaskan bahwa hal tersebut tidak memiliki dasar konstitusional.
Ia menekankan bahwa menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU, Syuriah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan Ketua Umum Tanfidziyah.
“Saya tandaskan, menurut konstitusi AD/ART, (Syuriah) tidak berwenang untuk memberhentikan Ketua Umum,” tegasnya.
Pernyataan kokoh Gus Yahya ini menuai beragam tanggapan dari warganet, mencerminkan dinamika opini publik di internal NU.
Baca Juga: Aji Buron! BNN NTB Buru Pemesan Ganja Medan yang Masuk Daftar Pencarian Orang
Sebuah akun dengan nama @Didik*** mengkritik sikap Gus Yahya.
Menurutnya, pernyataan "tidak terpikir mundur" justru menjadi alasan mengapa NU butuh penyegaran.
Akun tersebut menilai berlindung di balik AD/ART adalah tameng rapuh yang menunjukkan bahwa kursi kekuasaan lebih dijaga daripada marwah organisasi.
“Pemimpin sejati diuji dengan kritik, bukan sibuk berkelit dari kemungkinan diganti,” tulisnya.
Kritik lebih keras disampaikan oleh akun @88Hasani*** yang secara khusus meminta Gus Yahya mundur.
Akun itu menulis, “Sebagai Nahdliyin, alangkah baiknya jennengan mundur Gus, demi menjaga citra otoritas ulama di lingkungan NU, dan tentu menjaga kepercayaan nahdliyin kultural yang sudah muak dengan gaya kepemimpinan Anda yang kotor.”
Sementara itu, akun @belajar_fi*** mengingatkan tentang hierarki dan budaya dalam NU.
Akun tersebut mempertanyakan konsistensi hubungan antara Tanfidziyah (pelaksana harian) dan Syuriah (dewan penasihat syariah).
“Gus. Santri bukannya sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat) kepada kiai? Tanfidiyah itu santrinya syuriah kan? Gak ada satu jabatan pun yang pantas dipertahankan mati-matian apalagi bikin NU rusak,” tulisnya.
Editor : Kimda Farida