Riyang Gati bermodal arit manual dan konten video yang disertai tahline dan sederet kalimat kekinian untuk menjual suket hasil ngarit di lahan keluarga atau lahan yang tak digunakan. Baginya, ini profesi yang tak mungkin merugi.
YANG dibabat Riyang Gati dengan aritnya bukan suket atau rumput jenis tertentu maupun spesial. Sebatas rumput liar yang tumbuh di sawah. Ngaritnya juga menggunakan arit manual.
"Memang ada alat yang otomatis, tapi rumputnya harus tinggi. Kalau pendek nanti hasilnya hancur," terang pemuda 26 tahun itu kepada Radar Jogja Grup Jawa Pos sambil menunjukkan telapak tangan yang penuh lecet.
Kalau kemudian dagangan pemuda lulusan SMK jurusan teknik komputer yang menyebut dirinya Bakul Suket Jogja tersebut laris, itu karena kecerdikannya membaca pasar. Dia menawarkan produk secara daring lewat akun media sosial suketin.id, melalui konten video yang dikonsep dan disertai lagu-lagu pengiring populer.
Tagline-nya pun catchy: "Suket Ora Trending, Tapi Suket Iku Penting!" Dia menambahkan sederet kalimat kekinian. Misalnya, "Cekelan arit, bismilah dadi duit" atau "Liane do petik cetobeli, aku tetep ngarit."
Plus daya tarik lainnya: free ongkir, alias tanpa biaya pengiriman selama pemesan masih satu kapanewon atau kecamatan dengan pemuda asal Padukuhan Pendulan, Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman tersebut.
Dan, peminat pun berdatangan. Dari awalnya hanya dua karung per hari, meningkat hingga sembilan karung. Bahkan, kadang dia menolak order karena kewalahan atau dialihkan ke saudara atau tetangga.
"Enggak menyangka sama sekali. Rasanya seperti mimpi. Saya itu cuma ngarit, bakul suket, menariknya apa," terangnya sambil tertawa saat ditemui di kediamannya Selasa (18/11) pekan lalu.
Cukup Pupuk, Tak Perlu Bibit
Saat rumput telah habis dipanen, Riyang cukup menaburkan pupuk tanpa menanam bibit apa pun. Rumput yang didapat berasal dari sawah keluarga seluas seribu meter, juga dari sawah warga yang tidak digunakan.
Ide usaha Riyang berawal dari sawah keluarga yang merugi. Padi yang dihasilkan tidak sebanding dengan biaya menyewa traktor, membeli pupuk, dan membayar upah buruh.
Di sisi lain, sawah milik tetangga pun memilih libur. Pertimbangannya, jika tetap ditanami, padi hanya akan habis dimakan tikus.
Tepat pada momen sulit itu, dia menyarankan keluarga memelihara rumput untuk dijual. Namun, agar bisa bersaing, dia berpikir membuat ciri khas tersendiri.
"Tetangga sebenarnya banyak yang jual, tapi enggak ada mereknya dan nawarinnya hanya pakai akun pribadi," katanya.
Sampai akhirnya dia memilih nama Bakul Suket Jogja, sedangkan untuk media sosial dipilih nama suketin.id. Pemilihan nama ini, terangnya, agar usahanya terlihat lebih keren.
Harga tiap karung rumput sebesar Rp 25 ribu. Ada juga karung yang lebih besar dengan harga Rp 40 ribu. Apabila karung tidak dikembalikan, pembeli cukup menambah biaya Rp 2 ribu.
"Sebelumnya saya itu masih nganggur dan serabutan. Tapi, insya Allah sekarang madep manteb ngarit. Suket trending atau enggak, pasti tetap dibutuhkan," katanya.
Paham Aturan
Menurut Riyang, telah ada hukum pengaritan yang dipahami para tukang ngarit meski tidak tertulis. Apabila di sudut lahan dipasangi kayu atau bambu, rumput di tempat tersebut tidak boleh diambil. Sementara jika tidak ada tanda itu, siapa pun bebas mengambilnya.
Kegiatan mencari rumput dimulai sekitar pukul 09.00 saat embun mulai kering. Rumput yang masih membawa banyak embun dinilai tidak baik bagi ternak karena bisa membuat kembung.
Riyang biasanya kembali ke rumah saat waktu duhur. Setelah beristirahat, dia melanjutkan ngarit hingga hari menjelang petang. Menurutnya, usahanya ini tidak akan merugi.
Kalaupun rumput yang dicari tidak ada yang membeli, rumput dapat dijadikan pakan ternak milik keluarganya. Bagi Riyang, kunci keberhasilan usahanya hanya jeli melihat potensi sekitar dan berani mencoba hal baru yang belum dicoba orang lain.
"Di sekitar itu pasti banyak yang bisa dikembangkan. Penting ra sah gengsi (tidak usah gengsi), ra sah isin (tidak perlu malu)," pesannya. (Delima Purnamasari, Sleman/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam