LombokPost - Selama 38 tahun berkarya, Widijanto tetap setia pada dunia sastra.
Puluhan buku puisi dan cerpen lahir dari tangannya.
Guru yang juga dikenal sebagai sastrawan itu menularkan hobinya kepada siswa sekaligus menumbuhkan ekosistem literasi di lingkungan sekolah.
Di tengah derasnya arus budaya digital, Tjahjono Widijanto memilih jalan sunyi.
Ia mengenalkan sastra sebagai ruang pemulihan nurani bagi para siswa.
Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan disiplin hidup yang telah ditempuhnya selama hampir empat dekade.
Kecintaan terhadap dunia sastra bermula pada 1987, ketika Widijanto masih mahasiswa.
Puisi pertamanya dimuat di salah satu surat kabar lokal di Jogjakarta. Capaian itu membuatnya kian bersemangat menulis puisi dan cerita pendek (cerpen).
”Itu menjadi langkah awal saya menjadi penulis. Tidak ada rencana matang. Saya menulis ketika inspirasi datang meski hanya satu kata atau sebait kalimat. Alhasil, banyak tabungan puisi. Setiap tahun saya usahakan minimal membuat satu buku,” ujarnya kepada Jawa Pos.
Selama 38 tahun berkarya, Widijanto sudah melahirkan sekitar 30 buku. Beberapa di antaranya Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra, Penakwil Sunyi di Jalan-Jalan Api, Wangsit Langit, Janturan, dan Membongkar Metanarasi Wayang.
Sejumlah penghargaan nasional pun berhasil digenggamnya. Di antaranya, Pemenang II Sayembara Kritik Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2004), Pemenang Unggulan Telaah Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2010), Penghargaan Sastra Pendidik dari Badan Pusat Bahasa Nasional (2011), Penghargaan Seniman (Sastrawan) Gubernur Jawa Timur (2014), dan Penghargaan Sutasoma (Balai Bahasa Jawa Timur (2019).
Baca Juga: Sasak Literatif 2025 Ditutup dengan Lokakarya Penulisan Cerpen
Widijanto juga dipercaya tampil dalam sejumlah panggung nasional seperti Mimbar Penyair Abad 21 Dewan Kesenian Jakarta pada 1996 dan Cakrawala Sastra pada 2000.
Selain itu, dia pernah menjadi tamu di forum internasional seperti Hankuk University serta Ubud Writers and Readers Festival pada 2009.
Widijanto menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir, dirinya menekuni penulisan puisi dengan tema yang tidak biasa. Yaitu ”anjing”.
Baginya, anjing bukan sekadar hewan, melainkan simbol kemanusiaan yang kerap dipinggirkan.
”Anjing punya banyak kisah dalam sejarah, mitologi, dan kitab suci. Pandawa bisa masuk surga karena kesetiaannya pada anjing. Ada pelacur yang masuk surga karena memberi minum seekor anjing. Banyak metafora yang bisa digali,” papar kepala SMAN 1 Ngawi tersebut.
Gagasan itu diwujudkan dalam buku terbarunya. Buku tersebut memuat puluhan sajak dengan ragam perspektif tentang anjing. Mulai legenda Jawa, kisah-kisah sufistik, hingga refleksi kehidupan sehari-hari.
Menghidupkan Literasi di Sekolah
Sebagai kepala sekolah, Widijanto mengintegrasikan dunia sastra ke dalam ekosistem pendidikan.
Dia rutin mengadakan program sastrawan masuk sekolah hingga lokakarya bersama penulis nasional.
Selain itu, sekolahnya mengembangkan program one class, one book untuk melatih siswa memproduksi buku antologi sederhana.
”Kami tidak bicara mutu dulu. Yang penting anak terbiasa menulis. Karena kami mengajarkan menulis bukan untuk jadi pengarang atau sastrawan. Namun, menulis untuk kebutuhan intelektual,” ujar pria yang meraih gelar doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret tersebut.
Setelah lulus, siswa boleh menjadi apa pun. Entah dokter, insinyur, militer, politikus, atau seniman. ”Namun, apa pun profesinya, yang terpenting mereka tetap harus menulis,” tambahnya.
Tantangan Era Digital
Era digital menjadi tantangan yang dihadapi belakangan ini. Bacaan siswa beralih dari buku ke digital melalui gadget masing-masing atau yang dikenal dengan scroll.
Menurut dia, hal itu bukanlah masalah besar. Sebab, anak-anak juga bisa mendapatkan informasi terbaru dari smartphone.
Meskipun budaya scroll membuat anak tetap bisa membaca, dia menyebut tidak secara mendalam. Mereka seperti memiliki banyak informasi, tapi tidak ada endapan atau sublimasi.
”Karena itu, saya menjadikan sastra sebagai penyeimbang dalam kehidupan. Membersihkan nurani dan membangkitkan humanisme. Itu yang harus terus disentuh pada generasi hari ini,” terangnya.
Karena itu, kata dia, ruang humaniora harus semakin mendapat tempat di lingkungan sekolah. Bagi Widijanto, sastra bukan sekadar karya.
”Sastra adalah cara menjaga kepekaan pada sebuah nilai yang ingin diwariskan kepada para siswa yang tumbuh dalam derasnya arus teknologi digital,” tuturnya. (ian/mad/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida