Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kemendikdasmen Genjot Kualifikasi Guru Tambah Sasaran 137 Ribu Pengajar, Delapan Persen Guru Belum Tersertifikasi

Lombok Post Online • Jumat, 28 November 2025 | 11:17 WIB

 

Nunuk Suryani
Nunuk Suryani
 

LombokPost - Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) Kemendikdasmen menambah sasaran program pemenuhan kualifikasi akademik S-1/D-4 untuk guru tahun depan. Penambahannya sekitar 137.965 guru.

Dirjen GTKPG Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan, para guru yang belum memenuhi kualifikasi mayoritas guru senior. Mereka direkrut saat lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG), D-1 PGSD, atau D-2 PGSD. Kala itu, meski belum menempuh pendidikan S-1/D-4, masih diperbolehkan menjadi guru. Kebutuhan guru yang cukup banyak di jenjang PAUD dan SD menjadi rekruitmen besar-besaran tenaga pendidik.

Kondisi itu menyebabkan guru tanpa ijazah sarjana mengajar di satuan pendidikan hingga kini. Akibatnya, mereka tidak dapat mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan belum bisa memperoleh sertifikasi pendidik.

”Sebagian besar umurnya sudah sepuh,” tutur Nunuk dalam paparan capaian Hari Guru Kamis (27/11). Diperkirakan, masih ada delapan persen guru di Indonesia yang belum tersertifikasi. Jumlahnya setara kurang lebih 200 ribu pengajar.

Tahun ini, Kemendikdasmen menyediakan beasiswa khusus untuk peningkatan kualifikasi akademik S-1/D-4 bagi para guru. Pada kick off program, ada 12.500 guru, terutama untuk jenjang PAUD dan SD yang lolos program tersebut. Mereka terdiri dari 6.745 guru jenjang TK/PAUD serta 5.755 guru jenjang SD.

Kemendikdasmen menggandeng 59 LPTK dalam menyelenggarakan program studi PGPAUD dan 65 LPTK untuk program studi PGSD.

Rekognisi Pembelajaran Lampau

Menurut Nunuk, program beasiswa itu menggunakan mekanisme Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Guru yang memiliki pengalaman puluhan tahun mengajar dapat menuntaskan pendidikannya dalam waktu satu tahun. Pengalaman mengajarnya dikonversi ke dalam satuan kredit semester (SKS). Selain itu, mereka tidak diwajibkan menyusun skripsi. Pengajar hanya diminta menyusun laporan singkat. Mereka juga mendapat bantuan bantuan pendidikan berupa uang tunai sebesar Rp 3 juta per semester kuliah.

Dari 12.500 peserta tersebut, Nunuk menargetkan, 11.094 guru dapat melanjutkan ke PPG pada 2026. Sementara, 1.406 lainnya dijadwalkan mengikuti PPG pada 2027. Selain itu, dengan adanya penambahan sasaran baru sebanyak 137.965 guru di 2026, maka hingga akhir periode 2028, program itu dapat merangkul 150.465 guru yang belum S-1/D-4. ”Target kami, sampai akhir masa kepemimpinan Pak Menteri, seluruh guru sudah S-1 dan berserdik (sertifikasi pendidik, red),” ungkapnya.

Kado Hari Guru . Sebelumnya, pemerintah membagikan sejumlah kado untuk para guru tepat di peringatan Hari Guru Nasional (HGN). Mulai beasiswa S-1, kenaikan insentif guru honorer, sampai perlindungan hukum.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, beasiswa S-1 per semester Rp 3 juta bakal diberikan kepada 150 ribu guru. Insentif guru honorer juga akan dinaikkan dari semula Rp 300 ribu menjadi Rp 400 ribu tahun depan.

Mu’ti menambahkan, dia juga sudah meneken nota kesepahaman dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. “Untuk perlindungan guru, MoU dengan Kapolri. Jadi, jika ada laporan terhadap guru dapat diselesaikan melalui restorative justice,” tutur Mu’ti.

Mu’ti berharap, dengan adanya restorative justice atau keadilan restoratif (pendekatan dalam sistem peradilan pidana yang berfokus pada pemulihan kerugian dan rekonsiliasi antara pelaku, korban, dan masyarakat, bukan hanya pada hukuman atau pembalasan, red), para guru lebih fokus dalam mendidik. “Tidak hanya berkutat pada pelaporan kasus kriminalisasi guru yang marak terjadi. Guru bisa fokus mendidik dan mencerdaskan anak bangsa,” katanya.

Prioritas ke Kualitas dan Kesejahteraan

Menurut Mu’ti, sejumlah program peningkatan kesejahteraan guru serta kualitas pendidik memang menjadi prioritas tahun depan. Di antaranya melalui pelatihan koding serta memperbanyak pembelajaran mendalam. “Melanjutkan kebijakan yang sebelumnya, yakni dengan memberikan pelatihan kepada guru,” paparnya.

Sarana dan prasarana sekolah juga terus ditingkatkan. Program revitalisasi sekolah tahun depan anggarannya memang turun menjadi Rp 14 triliun dari sebelumnya Rp 16 triliun. “Tapi, revitalisasi tetap berjalan. Tahun depan targetnya 11 ribu sekolah yang akan direvitalisasi,” tuturnya. (mia/aph/JPG/r3)

Editor : Siti Aeny Maryam
#Sertifikasi #Guru #HGN #pendidik #Sekolah