LombokPost – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama (Kemenag) telah bergerak sangat cepat dalam merespons bencana banjir bandang dahsyat yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Menag menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak bencana tersebut dan mengumumkan keberhasilan penggalangan dana fantastis dalam waktu singkat.
Saat memberikan keterangan pers usai menghadiri Humas Kemenag Award di Jakarta, Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan, Kemenag bersama sejumlah lembaga seperti Baznas, Poroz, FOZ, dan pihak lainnya berhasil menghimpun bantuan dana darurat.
"Dalam waktu sangat singkat, kami bersama Baznas, Poroz, FOZ, dan pihak lainnya berhasil menghimpun sekitar Rp155 miliar,” ujar Menag di Hotel Aryaduta Menteng.
Dana yang terhimpun ini akan digunakan untuk kebutuhan mendesak para penyintas
Menag menekankan bahwa upaya bantuan ini tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pemulihan psikologis dan semangat para korban.
Data Cepat dan Penanganan Khusus Madrasah
Menag menjelaskan bahwa Kemenag memiliki keuntungan dalam memetakan data lapangan dengan cepat berkat jejaring aparatur hingga tingkat Kantor Urusan Agama (KUA). Laporan dari KUA, majelis taklim, imam masjid, hingga unit lintas agama di daerah dijamin valid dan sampai ke pusat dalam hitungan detik.
Terkait sektor pendidikan, Kemenag kini tengah memetakan kondisi madrasah dan lembaga pendidikan keagamaan yang terdampak. Kebijakan khusus akan diterapkan untuk lembaga yang mengalami kerusakan parah.
“Yang sangat parah akan mendapat perlakuan khusus. Kita tidak ingin menambah beban mereka. Sudah tertimpa musibah, jangan ditambah masalah baru,” tegas Menag.
Seruan Moral Ekoteologi: Merusak Alam adalah Dosa!
Dalam konteks penanganan bencana yang erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan seruan moral yang mendesak: Ekoteologi.
Menurutnya, isu ekoteologi sangat relevan untuk dikedepankan karena tantangan terbesar bangsa saat ini adalah kerusakan alam akibat perilaku manusia. Menag mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyadari pentingnya bersahabat dengan lingkungan melalui bahasa agama.
“Bahasa agama sangat efektif untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya bersahabat dengan lingkungan. Merusak alam adalah dosa, dan memperbaiki alam adalah amal pahala,” tegasnya.
Menag berharap kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keagamaan ini dapat menjadi gerakan bersama menuju masa depan yang lebih harmonis.
Editor : Kimda Farida