LombokPost - Publik kembali diguncang oleh isu sensitif yang menyentuh jantung organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Konflik PBNU, dualisme kepemimpinan PBNU, dan pertanyaan siapa sebenarnya Ketua Umum PBNU yang sah, kini menjadi perbincangan dari grup WhatsApp hingga ruang redaksi media nasional.
Di tengah kebingungan itu, Denny JA, pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), memetakan tiga skenario masa depan PBNU, yang menurutnya sangat menentukan arah Islam Nusantara dalam beberapa tahun ke depan.
“Konflik PBNU bukan sekadar soal jabatan. Ini menyangkut otoritas moral NU sebagai jangkar keagamaan bangsa,” kata Denny JA.
Kebingungan Publik dan Munculnya Dua Klaim Kepemimpinan
Isu dualisme kepemimpinan PBNU berawal dari dua klaim legitimasi:
• KH Yahya Cholil Staquf, yang menilai pencopotannya cacat prosedur.
• KH Zulfa Mustofa, yang merasa sah ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum oleh rapat pleno Syuriyah.
Pertanyaan publik pun menguat:
“Siapa yang memimpin PBNU hari ini?”
Isu kepemimpinan PBNU ini menjadi semakin sensitif karena NU bukan organisasi biasa. Dalam pandangan Denny JA, NU adalah “urat nadi spiritual bangsa” yang memiliki pengaruh moral sangat besar.
Dinamika Baru: Isu Konsesi Tambang yang Ikut Menyeret NU
Dalam pengamatan Denny JA, konflik kali ini berbeda dari konflik-konflik NU sebelumnya karena terseretnya isu baru: konsesi tambang.
Meski belum terverifikasi penuh, narasi ini menyebar cepat dan menimbulkan kekhawatiran bahwa ada kepentingan ekonomi yang memengaruhi dinamika organisasi.
“Ketika isu tambang masuk ke gelanggang PBNU, yang terancam bukan hanya struktur organisasi, tetapi juga otoritas moral NU,” ujar Denny JA.
Menurutnya, kekuatan terbesar NU justru hadir ketika NU menjaga jarak dari politik kekuasaan dan kepentingan material.
Dinamika Baru: Isu Konsesi Tambang yang Ikut Menyeret NU
Dalam pengamatan Denny JA, konflik kali ini berbeda dari konflik-konflik NU sebelumnya karena terseretnya isu baru: konsesi tambang.
Meski belum terverifikasi penuh, narasi ini menyebar cepat dan menimbulkan kekhawatiran bahwa ada kepentingan ekonomi yang memengaruhi dinamika organisasi.
“Ketika isu tambang masuk ke gelanggang PBNU, yang terancam bukan hanya struktur organisasi, tetapi juga otoritas moral NU,” ujar Denny JA.
Menurutnya, kekuatan terbesar NU justru hadir ketika NU menjaga jarak dari politik kekuasaan dan kepentingan material.
Tiga Skenario
1. Rekonsiliasi – Islah Total (Skenario terbaik)
Dalam skenario pertama, para kiai sepuh memanggil dua tokoh: Gus Yahya dan KH Zulfa Mustofa. Ego diredam, ketegangan dicairkan, dan NU segera menggelar Muktamar Istimewa yang disepakati semua pihak.
Denny JA menilai ini sebagai skenario yang menyelamatkan NU. “Jika dua kubu kembali satu suara, NU bukan hanya pulih—tetapi tumbuh lebih kuat sebagai pelita moral bangsa,” ujarnya.
Menurut dia skenario ini akan mengembalikan wibawa PBNU, merestorasi kepercayaan publik, mempertegas kembali Khittah 1926.
2. Dualisme Sementara – Suara NU Melemah
Skenario kedua adalah jalan penuh kabut. Dua kubu tetap mengklaim legitimasi masing-masing. Tidak ada keputusan final dalam waktu dekat.
Akibatnya, ujar Denny, jamaah bingung, pengurus daerah ragu menentukan sikap, nasihat PBNU kehilangan daya moral.
“NU tetap besar, tetapi suaranya serak. Dualisme kepemimpinan PBNU membuat organisasi kehilangan momentum moralnya,” kata Denny JA.
3. Dualisme Permanen – Skenario Tergelap
Dalam skenario ketiga, konflik mengeras dan tidak menemukan titik temu. Dua organisasi lahir secara de facto: satu tetap memakai nama PBNU, satu lagi memodifikasi nama.
Ini pernah terjadi di banyak ormas besar, dan hasilnya hampir selalu sama: organisasi melemah, otoritas moral runtuh, dan jamaah tercerai-berai.
“Jika NU pecah, pecah pula salah satu fondasi utama Islam moderat Indonesia. Ini bukan hanya kerugian organisasi, tetapi kerugian nasional," menurut Denny JA.
PBNU adalah jangkar moderasi Islam Indonesia. NU memengaruhi jutaan santri, ibu-ibu tahlilan, pengurus masjid, hingga struktur sosial desa dan kota.
Karena itu, konflik PBNU bukan sekadar isu internal. Ia menyentuh stabilitas kehidupan beragama Indonesia.
“Indonesia membutuhkan NU yang satu, bukan dua. NU yang bulat, bukan terbelah. NU yang menjadi cahaya moral, bukan sekadar pemain politik,” tegas Denny.
Dua Pilihan Besar di Hadapan PBNU
Sejarah mencatat, NU selalu menemukan jalan keluar ketika para kiai memilih kebijaksanaan di atas ambisi.
Kini sejarah kembali memanggil. Publik menunggu keputusan besar, apakah NU dibiarkan retak, atau NU kembali berdiri sebagai satu aliran yang meneduhkan bangsa.
“NU, seperti mata air tua, hanya menghidupi bangsa ketika tetap satu aliran. Ketika pecah, yang tersisa hanya retakan,” tutup Denny JA. (***)
Editor : Alfian Yusni