LombokPost - Minat untuk melanjutkan studi doktoral di Indonesia masih rendah. Selain diakibatkan durasi, hal ini juga disebabkan sulitnya lulusan mendapatkan pekerjaan yang sesuai.
Merespons kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek meluncurkan Jejaring Karier PMDSU.
PMDSU merupakan beasiswa Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul. Sejak diluncurkan pada 2013, PMDSU memiliki 873 alumni dan 1.719 mahasiswa aktif.
Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Kemendiktisaintek Sri Suning Kusumawardani mengungkapkan, belum 100 persen alumni terserap ke perguruan tinggi dan lembaga riset.
Sejauh ini, baru sekitar 81 persen alumni yang masuk ke dunia akademik. Sisanya ke industri dan bekerja di luar negeri.
“Sangat sayang kan kalau alumni-alumni dengan potensi yang besar kemudian tidak kita guide untuk masuk ke kanal dunia akademisi dan dunia peneliti,” papar Suning dalam acara soft launching Jejaring Karier PMDSU di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (23/12).
Padahal, lanjut dia, selama empat tahun kuliah mereka telah digembleng secara luar biasa oleh promotor, dosen, hingga melalui kolaborasi joint degree dengan perguruan tinggi luar negeri.
Selain itu, keberadaan mereka dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem riset nasional yang mumpuni.
Nantinya, melalui website Jejaring Karier PMDSU, lulusan bisa dijodohkan dengan perguruan tinggi (PT) lembaga riset, dan pemangku kepentingan lainnya.
Mereka cukup log in dan meng-update curriculum vitae (CV) untuk kemudian diarahkan ke pihak-pihak terkait.
Kendati demikian, Suning menekankan, bahwa website ini bukan merupakan sistem penempatan kerja. Melainkan instrumen fasilitasi kebijakan.
Tempat Mengabdi Tetap
Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Mendiktisaintek Badri Munir Sukoco mengamini, adanya lulusan program doktoral yang tidak terserap secara nyata. Lulusan program beasiswa LPDP, misalnya, kurang lebih ada 25–30 persen yang belum memiliki tempat mengabdi tetap. Sekitar 80 persen dari mereka merupakan lulusan jurusan Science, Technology, Engineering, and Math (STEM).
Pihaknya pun mencoba mencari jalan keluar dengan menjalin komunikasi dengan pihak Danantara. Ternyata, langkah tersebut disambut positif dengan kesiapan menampung para lulusan tersebut.
Karenanya, dia menilai, Jejaring Karier PMDSU ini akan sangat membantu para lulusan agar dapat tersalurkan. Sehingga, tujuannya untuk melakukan transformasi ekonomi menjadi knowledge-based economy bisa terwujud.
Dalam konteks perguruan tinggi, lanjut Badri, saat ini rata-rata keterpenuhan dosen dengan kualifikasi S3 di perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH) masih kurang dari 80 persen. Dari tujuh PTN-BH unggulan, ITB menjadi yang tertinggi dalam komposisi dosen S3 dengan 64,54 persen. Sementara itu, 16 PTN-BH lainnya masih berada di angka 45,16 persen.
Kondisi perguruan tinggi BLU lebih memprihatinkan. Dosen dengan kualifikasi S3 hanya mencapai 27,84 persen. Tak jauh berbeda, PTN Satker bahkan hanya sekitar 15,43 persen. “Nah, untuk top five PTS (perguruan tinggi swasta) itu 34 persen. Jadi, intinya lulusan S3 itu sangat dibutuhkan di Indonesia untuk upgrading diri,” paparnya. (mia/ttg/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji