LombokPost - DI Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), ada 658 santri, siswa, dan guru yang diduga keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (9/1).
Mereka mengonsumsi nasi kuning, telur suwir, dan abon.
Korban dirawat di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug, Grobogan.
Karena jumlahnya terus bertambah, pihak RS menambah memfungsikan ruang isolasi menjadi kamar rawat inap.
Ketua Satgas MBG Grobogan Sugeng Prasetyo dan Sekda Grobogan Anang Armunanto menjenguk santri yang tengah menjalani perawatan, Minggu (11/1).
Sugeng menanyakan kronologi sertra keluhan yang dialami korban setelah menyantap MBG.
Menurut santri, biasanya, makanan datang sekitar pukul 09.00 WIB.
Namun, saat kejadian, baru tiba sekitar pukul 11.00.
Ada santri yang langsung makan. Namun, tidak sedikit yang baru menyantap MBG setelah salat Jumat.
Santri juga mengeluhkan perubahan rasa telur yang disajikan.
Sementara, nasi kuning sudah lengket. Sugeng meminta para santri tidak trauma terhadap MBG.
Evaluasi dan pembenahan bakal dilakukan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
”Ke depan, dapur dan seluruh proses MBG akan kami benahi agar lebih baik,” tegasnya.
Kepala Dinkes Grobogan dr Djatmiko memastikan mayoritas kondisi pasien mulai membaik.
Namun, ada beberapa santri masih memerlukan pengawasan ketat.
”Kami terus memantau perkembangannya,” ujarnya.
Pada Sabtu (10/1), kata dia, dikes, puskesmas, dan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) telah mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwaron.
Itu untuk mengecek SOP yang terabaikan dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan.
”Tim juga mengambil sampel nasi kuning, telur dadar, orek tempe, dan abon. Seluruhnya akan diperiksa untuk mengetahui sumber dugaan keracunan,” paparnya.
Total, ada 658 pasien yang diduga menjadi keracunan MBG.
Selain di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug, pasien lainnya dirawat di RSUD dr Soedjati Purwodadi.
Sebagian besar dari santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Gubug dengan keluhan beragam, mulai dari mual, muntah, diare hingga dehidrasi.
Tanggung Pengobatan
Koordinator Regional SPPI Jawa Tengah BGN Reza Mahendra menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan atas kejadian tersebut.
”Kami bertanggung jawab penuh, termasuk pembiayaan pengobatan bagi para penerima manfaat yang mengalami keracunan MBG,” ujarnya.
BGN telah mengeluarkan surat penghentian sementara operasional SPPG Kuwaron untuk kepentingan pengecekan menyeluruh.
”Harapannya, kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tegasnya.
Ada sejumlah catatan yang harus diperbaiki SPPG. Salah satunya terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dinilai belum memenuhi standar.
IPAL seharusnya tertutup dan sistem pembuangan limbah tidak boleh langsung dialirkan keluar agar tidak mencemari lingkungan.
Selain IPAL, BGN juga menemukan beberapa alur kerja dapur yang perlu dibenahi. Mulai dari kelengkapan dapur, penataan peralatan, hingga sistem pembuangan air.
Pada area pencucian peralatan, belum ada penanda sebagai bagian dari standar operasional.
Menurut Reza, operasional SPPG kembali berjalan setelah perbaikan dan standar keamanan pangan dipenuhi. (int/aph/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida