LombokPost - Di hadapan para mantan Menteri Luar Negeri seperti Retno Marsudi dan Alwi Shihab, serta ratusan diplomat mancanegara, Menteri Luar Negeri RI Sugiono secara resmi meluncurkan arah baru kebijakan luar negeri Indonesia: Diplomasi Ketahanan.
Dalam acara Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM) 2026 yang digelar pada Rabu (14/1/2026), Menlu menegaskan bahwa di dunia yang semakin keras dan tidak terprediksi, Indonesia tidak boleh sekadar menjadi penonton, melainkan harus mampu menentukan arah sendiri.
Empat Pilar Utama Diplomasi Ketahanan Strategi ini dirancang untuk memperkuat daya tawar Indonesia melalui empat fondasi krusial.
Ketahanan Keamanan: Menyelesaikan batas wilayah darat dan maritim. (Capaian 2025: Kesepakatan dengan Malaysia, Timor-Leste, dan Vietnam).
Ketahanan Ekonomi: Diversifikasi mitra dagang (EAEU, Peru, Kanada) dan pembentukan Ditjen Hubungan Ekonomi baru di Kemlu.
Ketahanan Pangan: Diplomasi aktif mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui kerja sama dengan School Meals Coalition.
Ketahanan Energi: Mendukung swasembada energi dan target pembangunan PLTN pertama pada 2032.
Sinergi Luar Negeri dan Pertahanan Menlu Sugiono menekankan pentingnya dialog Two Plus Two (Menlu dan Menhan) dengan negara mitra seperti Tiongkok, Jepang, Australia, dan Turkiye.
Sinergi ini dianggap sebagai instrumen pencegahan risiko strategis dan stabilisasi kawasan yang paling efektif saat ini.
Negara Hadir untuk Rakyat: Pelindungan WNI & Diaspora Sektor pelindungan warga menjadi catatan emas sepanjang 2025 dengan keberhasilan memulangkan 27.768 WNI dari berbagai situasi krisis, termasuk konflik bersenjata dan sindikat online scam.
“Bagi WNI di luar negeri, yang paling penting adalah merasakan kehadiran dan perlindungan negara,” tegas Menlu Sugiono.
Ke depan, Kemlu juga akan memperkuat peran Diaspora sebagai aset nasional melalui inisiatif "Satu Data Diaspora" dan Nomor Induk Diaspora agar mereka bisa berkontribusi lebih besar bagi pembangunan tanah air.
Waspada Teknologi Baru Menutup pidatonya, Menlu mengingatkan bahwa ancaman masa depan tidak hanya datang dari peluru, tetapi juga dari kecerdasan artifisial (AI) dan ruang siber.
Ia menegaskan bahwa diplomat Indonesia harus hadir sebagai penjaga aturan main (rules of the game) global agar teknologi tetap menjadi pelayan kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Editor : Kimda Farida