LombokPost - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa kunci utama untuk mengakhiri darurat sampah nasional berada di tangan ibu rumah tangga.
Semua memiliki peranan aktif untuk bisa bersama-sama bahu membahu atasi krisis sampah yang terjadi belakangan ini.
Hal ini disampaikan Hanif saat melakukan verifikasi lapangan di Kabupaten Ciamis, satu-satunya daerah yang mencatatkan nilai tertinggi dalam penilaian Adipura 2026.
Rumah Tangga: Hulu dari Solusi
Berdasarkan data KLH/BPLH, sumber sampah terbesar di Indonesia berasal dari rumah tangga (49 persen), dengan dominasi sisa makanan mencapai 38 persen.
Di Desa Bojongmengger, Menteri Hanif memberikan edukasi langsung bahwa pemilahan dari dapur adalah keharusan untuk mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
"Intervensi di level rumah tangga bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Jika kita bisa menekan sampah organik di hulu, efisiensi pengelolaan sampah nasional akan meningkat drastis," tegas Hanif.
Ekonomi Sirkular di Bank Sampah Induk
Menteri Hanif juga meninjau Bank Sampah Induk (BSI) Ciamis yang telah berhasil membangun ekosistem ekonomi sirkular yang kuat.
Dengan jaringan 324 Bank Sampah Unit, BSI Ciamis mengelola lebih dari 100 jenis sampah anorganik yang dikirim ke industri daur ulang hingga ke Tangerang.
Integrasi ini membuktikan bahwa sampah yang terpilah bukan lagi beban, melainkan aset yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat lokal.
Ciamis Jadi Referensi untuk 514 Kabupaten/Kota
Keunggulan Ciamis terletak pada sinergi antara kebijakan, anggaran, dan partisipasi publik yang masif.
Di Pasar Ciamis, Hanif menyaksikan langsung pengolahan sampah organik menggunakan metode maggot dan pengomposan yang efektif.
“Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, Ciamis meraih nilai tertinggi berdasarkan pantauan setahun penuh. Pengelolaan bank sampah dan TPS 3R di sini akan kami jadikan referensi nasional untuk direplikasi di seluruh daerah,” ujar Menteri Hanif.
Tantangan Residu dan Teknologi
Meski sukses, KLH/BPLH tetap menyoroti pentingnya peningkatan teknologi untuk mengolah sampah bernilai rendah agar residu yang tersisa benar-benar nol (zero waste).
Keberhasilan Ciamis diharapkan menjadi pemicu bagi daerah lain untuk segera berbenah dan mengadopsi sistem serupa demi menjawab tantangan krisis sampah nasional melalui aksi nyata di tingkat tapak.
Editor : Kimda Farida