LombokPost - DI usia baru 10 tahun, hidup sudah memaksa YBR, untuk mengutip “Sore Tugu Pancoran”-nya Iwan Fals, "pecahkan karang."
Berkelahi dengan waktu membantu perekonomian keluarga yang sangat kekurangan.
"Untuk membantu memenuhi kebutuhan, anak ini (YBR) selalu menjual sayur dan kayu kepada masyarakat sekitar," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ngada, Nusa Tenggara Timur, Elisius Kletus Watungadha, kepada Timor Express (Grup Jawa Pos), Kamis (5/2).
Sayur itu ditanam sang nenek di sekitar pondok di kebun yang dia tinggai bersama sang cucu. Sedangkan YBR ikut mengumpulkan kayu bakar untuk dijual.
Sedari masih balita, YBR tinggal di pondok sang nenek. Ayah anak bungsu dari lima bersaudara tersebut, YM, merantau ke Kalimantan sejak dia masih di kandungan sang ibu, MGT.
Karena keterbatasan ekonomi pula, kakak YBR, anak keempat dari lima bersaudara, juga hanya bisa bersekolah sampai SD. Wakil Ketua 1 DPRD Ngada dari Partai Gerindra, Rudolf Aqroz Wogo, berjanji akan berupaya untuk membantunya melanjutkan pendidikan.
Bahkan jika kelak dia mau melanjutkan ke perguruan tinggi, dia juga akan tetap berusaha mengulurkan tangan.
“Bukan saja mampu secara pendidikan, tetapi juga mampu pemberdayaan agar bisa menghasilkan dirinya sendiri untuk biaya sampai pendidikan tinggi,” katanya.
Mengutip Timor Express, persentase penduduk miskin di Kabupaten Ngada pada 2024 tercatat 20,40 jiwa atau 11,87 persen dari keseluruhan penduduk yang berjumlah 171.865 jiwa. Jumlah tersebut turun dari 12,06 persen pada 2023.
Angka kemiskinan tertinggi di kabupaten yang beribukota di Bajawa tersebut tercatat pada 2007, mencapai 17,28 persen dari total jumlah warga. Sedangkan terendah pada 2010 sebanyak 10,76 persen. (dek/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post