Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gempa Pacitan Tembus 37 Kali Selama Tujuh Jam, Satu Warga Meninggal, Puluhan Dilarikan ke RS

Lombok Post Online • Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:17 WIB
Dampak gempa berkekuatan 6,4 SR berpusat di Pacitan Jumat (6/2) dini hari benar-benar menimbulkan kepanikan. Tak terkecuali warga di Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Sekitar pukul 01.06
Dampak gempa berkekuatan 6,4 SR berpusat di Pacitan Jumat (6/2) dini hari benar-benar menimbulkan kepanikan. Tak terkecuali warga di Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Sekitar pukul 01.06

LombokPost - Gempa berkekuatan 6,4 SR yang berpusat di Pacitan Jumat (6/2) dini hari benar-benar menimbulkan kepanikan.

Tak terkecuali warga di Desa Tanjungpuro, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Sekitar pukul 01.06 WIB, mereka berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri, salah satunya Joko Santoso.

Namun, pria berusia 53 tahun itu terjatuh hingga tak sadarkan diri. Warga lantas membawanya ke UGD Puskesmas Ngadirojo. Sayang, takdir berkata lain. Nyawanya tak bisa ditolong. Sekitar pukul 01.30 WIB, Joko dinyatakan meninggal dunia.

”Berdasarkan keterangan keluarga, korban memiliki riwayat hipertensi dan sering mengeluh pusing,’’ kata Kepala UPT Puskesmas Ngadirojo dr Rini Endrawati.

Selain merenggut korban jiwa, puluhan warga di sejumlah daerah, terutama di Jatim, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), dan Jateng, menjalani perawatan akibat luka-luka. Tak hanya itu, gempa juga merusak rumah warga dan bangunan lain.

Di Pacitan, berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, sedikitnya 15 bangunan rusak.

”Datanya terus update dan berpotensi bertambah,’’ kata Kalaksa BPBD Pacitan Erwin Andriatmoko.

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji langsung turun meninjau sejumlah lokasi terdampak kemarin pagi. ”Kami akan mengupayakan rehabilitasi rumah-rumah terdampak. Penanganan akan dikoordinasikan,” katanya.

Berdasarkan laporan BPBD Pacitan, gempa yang terjadi kemarin tak hanya terjadi sekali. Selama rentang tujuh jam pasca gempa besar, sedikitnya terjadi 37 kali gempa hingga pukul 07.27 WIB.

Kondisi di Berbagai Daerah

Wilayah lain yang terdampak gempa adalah tetangga Pacitan, yakni Ponorogo. BPBD setempat mencatat sedikitnya empat rumah dan satu gudang roboh. Selain itu, satu masjid rusak.

Kerusakan tersebar di lima titik. Yakni di Kelurahan Surodikraman, Kecamatan Ponorogo; Desa Nglewan, Kecamatan Sambit; Desa Bogem, Kecamatan Sampung; Desa Gombang, Kecamatan Slahung; dan Kelurahan Singosaren, Kecamatan Jenangan.

Gempa juga terasa di sejumlah wilayah di DIJ. Salah satu yang terparah terjadi di Bantul. Sedikitnya 13 bangunan mengalami kerusakan. ”Terdiri atas tujuh rumah, dua tempat ibadah, satu fasilitas pemerintahan, dua fasilitas pendidikan, dan satu fasilitas kesehatan,” kata Kalaksa BPBD Bantul Mujahid Amrudin Jumat (6/2).

Selain itu, 15 warga dilaporkan harus menjalani perawatan akibat mengalami luka. Ada yang mengalami patah tulang hingga sempat pingsan akibat terjatuh. Mereka dirawat di lima rumah sakit (RS) dan satu puskesmas.

Sementara itu, berdasarkan data BPBD DIJ, dampak gempa juga terjadi di Sleman, Kulonprogo, dan Gunungkidul. Tak hanya merusak bangunan warga dan fasilitas umum, sedikitnya 40 orang menjalani perawatan akibat luka-luka. ”Untuk korban jiwa tidak ada,” kata Kalaksa BPBD DIJ Agustinus Ruruh Haryata.

Dampak gempa juga terjadi di sejumlah daerah di Jateng. Seperti di Karanganyar, tepatnya Kecamatan Jatiyoso. Selain merusak sejumlah rumah warga, gempa juga membuat bangunan SD Negeri 3 Beruk rusak. ”Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Karanganyar untuk penanganan dan tindak lanjut di lapangan,” ujar Camat Jatiyoso Mahmud Aziz Arifin.

Sementara itu, Kepala BPBD Karanganyar Hendro Prayitno mengatakan, pihaknya terus melakukan pendataan dan koordinasi dengan instansi terkait serta pemerintah desa setempat.

”Kerusakan yang terjadi rata-rata pada bangunan lama yang dalam konstruksinya tidak menggunakan penguat, sehingga lebih rentan saat terjadi getaran,” jelas Hendro.

Di Wonogiri, gempa tak hanya merusak rumah warga. Sejumlah bangunan kantor, sekolah, hingga fasilitas kesehatan rusak. Di antaranya di SMK PGRI 2 Wonogiri serta Puskesmas Jatisrono hingga Pracimantoro.

Sementara itu, dampak gempa yang terasa di sejumlah titik membuat BPBD Wonogiri membagi personelnya menjadi beberapa tim. ”Ada yang ke Pracimantoro. Juga ada yang ke arah timur," kata Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri Fuad Wahyu Pratama.

Berdasarkan laporan yang diterima, gempa membuat sejumlah rumah warga, puskesmas, dan sekolah rusak. 

Jenis Megathrust

Sementara itu, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa gempa tersebut berjenis megathrust. ”Namun tidak mencapai magnitudo 7,0. Jika kekuatannya lebih besar berpotensi memicu tsunami di wilayah pesisir selatan Jawa,” katanya.

Selain di kabupaten/kota pesisir laut selatan Jawa, gempa juga dirasakan di wilayah lain di Jateng hingga Jatim. Seperti Trenggalek, Wonogiri, Malang, Cirebon, Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Wonosobo, dan Banjarnegara. Gempa juga dirasakan di wilayah Tuban yang notabene adalah wilayah pantai utara Jawa. (hyo/her/idr/cin/ant/rud/al/mel/ris/JPG/r3)

Editor : Jelo Sangaji
#gempa megathrust Jawa #gempa pacitan #Gempa Tidak Berpotensi Tsunami #BMKG gempa Pacitan #gempa jawa timur