LombokPost - Penetapan awal puasa Ramadan 2026 mulai menemukan kejelasan. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bahkan secara resmi telah mengumumkan awal Ramadan.
Ketetapan ini diumumkan PP Muhammadiyah pada Rabu, 4 Februari 2026 lalu, sekaligus menjadi rujukan resmi bagi warga Muhammadiyah.
Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan dengan metode hisab, sehingga mereka telah menentukan waktu pelaksanaan puasa.
Dalam pengumuman resmi PP Muhammadiyah, bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Hari Rabu, 18 Februari 2026.
Keputusan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang selama ini konsisten digunakan Muhammadiyah.
Sementara itu, pemerintah hingga kini belum menetapkan secara resmi awal puasa Ramadan 2026.
Tetapi berdasarkan kalender Hijriah, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, tanggal 19 Februari 2026.
Penetapan secara resmi awal puasa Ramadan oleh pemerintah menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar Kementerian Agama (Kemenag).
Sidang isbat Kemenag dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2026 mendatang.
Sidang isbat nantinya akan didahului dengan pemantauan bulan atau rukyatul hilal di berbagai titik di Indonesia.
Hasil rukyatul hilal tersebut akan dibahas bersama perwakilan ormas Islam, pakar astronomi, ahli falak, serta instansi terkait sebagai dasar penetapan awal Ramadan secara nasional.
Sejalan dengan pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU) juga belum mengumumkan keputusan resmi, karena masih menunggu hasil rukyatul hilal.
Meski demikian, berdasarkan Almanak NU, awal Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Dari sisi astronomi, BMKG memprakirakan posisi hilal pada saat matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk di seluruh wilayah Indonesia.
Ketinggian hilal tercatat berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat, sehingga secara rukyat diperkirakan belum memungkinkan untuk terlihat.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menilai potensi perbedaan awal Ramadan 1447 H cukup besar.
Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan, bahwa perbedaan kali ini bukan semata soal data astronomi, melainkan perbedaan penggunaan konsep hilal lokal dan hilal global.
“Potensi perbedaan awal Ramadan cukup besar karena perbedaan kriteria yang digunakan, apakah berbasis wilayah lokal atau global,” ujarnya.
Indonesia mengacu pada kriteria imkanur rukyat MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Dengan adanya perbedaan metode tersebut, awal puasa Ramadan 2026 berpeluang jatuh pada 18 atau 19 Februari.
Editor : Marthadi