LombokPost - Memasuki bulan suci Ramadan, ibadah umrah awal Ramadhan menjadi momen spiritual yang paling dinanti umat Islam.
Tahun ini, 40 jamaah Muhsinin Tour and Travel menunaikan umrah awal Ramadhan dengan penuh kekhusyukan di Kota Makkah, tepat pada Kamis, 26 Februari 2026.
Sejak langkah pertama menginjakkan kaki di Tanah Suci, suasana haru dan doa menyelimuti seluruh rombongan jamaah.
Perjalanan umrah awal Ramadhan bersama Muhsinin Tour and Travel menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Setibanya di hotel, jamaah hanya beristirahat sejenak sebelum bersiap mengenakan pakaian ihram. Sebanyak 40 jamaah langsung bergerak menuju Masjidilharam, pusat spiritual umat Islam dunia.
Rombongan jamaah dipimpin oleh Ustad Taufik dan Ustad Rahim, membimbing setiap prosesi ibadah dengan tertib dan khusyuk. Talbiyah menggema sepanjang perjalanan:
“Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika laa syarika laka Labbaik...”
Setibanya di Masjidilharam, pemandangan Ka’bah yang berdiri megah langsung menyentuh relung hati jamaah. Tangis haru pecah.
Banyak jamaah tak kuasa menahan air mata saat pertama kali menyaksikan kiblat umat Islam dari jarak dekat. Lelah perjalanan seketika sirna, berganti dengan semangat untuk menyempurnakan ibadah umrah awal Ramadhan.
Rangkaian ibadah diawali dengan tawaf, mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Meski Masjidilharam dipadati jamaah dari berbagai negara, suasana tetap terasa sakral, tenang, dan penuh kekhusyukan.
Setiap langkah diiringi doa, harapan, dan keyakinan bahwa Allah SWT menyaksikan setiap ikhtiar hamba-Nya.
Di sela-sela tawaf, jamaah memanjatkan doa di titik-titik mustajab seperti, Multazam, dan Maqam Ibrahim. Permohonan ampunan, keberkahan, keselamatan keluarga, hingga kelapangan rezeki menjadi lantunan doa yang mengalir dari setiap bibir jamaah.
Usai tawaf dan salat sunnah di dekat Maqam Ibrahim, rombongan melanjutkan ibadah Sa’i, berjalan dan berlari kecil di antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ritual ini menjadi refleksi spiritual atas perjuangan Siti Hajar dalam mencari air bagi Nabi Ismail AS.
Meski fisik mulai terkuras, semangat jamaah tetap terjaga. Tangisan doa, dzikir, dan lantunan istighfar terdengar sepanjang lintasan Sa’i. Nilai kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal terasa hidup dalam setiap langkah ibadah.
Rangkaian umrah awal Ramadhan ditutup dengan tahallul, mencukur atau memotong rambut sebagai simbol penyucian diri.
Dengan tahallul, seluruh jamaah resmi menuntaskan rukun umrah dan merasakan kebahagiaan spiritual yang luar biasa.
Bagi jamaah Muhsinin Tour and Travel, umrah awal Ramadhan bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi sebuah pengalaman ruhani yang membekas, memperkuat iman, dan menjadi titik balik spiritual dalam kehidupan.
Dari Makkah, doa-doa dipanjatkan, harapan dititipkan, dan keimanan diperbarui, mengawali Ramadhan dengan kesucian hati dan ketenangan jiwa.(***)
Editor : Alfian Yusni