Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

TRANSISI EL NINO! BMKG Peringatkan Ancaman Kemarau "Ekstra Panas" Datang Lebih Awal, NTB Jadi Wilayah Pertama yang Terdampak!

Nurul Hidayati • Selasa, 10 Maret 2026 | 17:30 WIB

Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia
Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia

LombokPost - Masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) diminta segera bersiap menghadapi perubahan cuaca drastis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan sinyal waspada seiring berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026, yang kini berganti dengan bayang-bayang El Nino.

Ancaman kekeringan meteorologis diprediksi akan menyergap lebih cepat dari biasanya. Ironisnya, wilayah Nusa Tenggara dipetakan sebagai "gerbang awal" masuknya musim kemarau di Indonesia sebelum merembet secara bertahap ke wilayah lainnya.

Musim Kering Datang Lebih Cepat

Data BMKG menunjukkan bahwa awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemajuan atau MAJU (46,5 persen) dari jadwal normalnya. Periode krusial ini diperkirakan mulai terjadi pada April hingga Mei 2026.

Kondisi ini diperparah dengan akumulasi curah hujan yang diprediksi masuk dalam kategori BAWAH NORMAL (64,5 persen). Artinya, musim kemarau tahun ini akan terasa jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Puncak Agustus, Durasi Lebih Panjang

Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus 2026. Namun, yang perlu diwaspadai adalah durasinya. BMKG memproyeksikan musim kemarau kali ini akan berlangsung LEBIH PANJANG dari normalnya di sebagian besar wilayah Indonesia (57,2 persen).

"Transisi dari La Nina ke El Nino ini membawa konsekuensi pada suhu yang lebih menyengat dan ketersediaan air yang menipis lebih cepat," tulis laporan tersebut.

Dampak Nyata bagi NTB

Sebagai wilayah yang secara geografis memang memiliki curah hujan rendah, NTB menjadi daerah yang paling rentan. Puncak kemarau yang maju dan durasi yang panjang berpotensi memicu:

Krisis ketersediaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga.

Peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Ancaman gagal panen bagi sektor pertanian yang mengandalkan tadah hujan.

Imbauan Mitigasi

Pemerintah daerah dan masyarakat dihimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Penghematan penggunaan air bersih, pembersihan saluran irigasi, serta penyiapan cadangan pangan menjadi prioritas utama sebelum memasuki bulan April.

Masyarakat juga diingatkan untuk tetap memantau informasi resmi dari BMKG guna mengantisipasi suhu ekstrem yang dapat berdampak pada kesehatan fisik selama beraktivitas di luar ruangan.

Editor : Kimda Farida
#kemarau #krisis air #bmkg #el nino #la nina