Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BENTENG DOMESTIK! Hadapi Gejolak Global, Indonesia Percepat Swasembada Energi Lewat Sawit dan "Energi Singkong"

Nurul Hidayati • Kamis, 12 Maret 2026 | 16:46 WIB

Dua orang pekerja sedang bongkar sawit.
Dua orang pekerja sedang bongkar sawit.

LombokPost - Memanasnya suhu geopolitik global, terutama konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu kekhawatiran akan stabilitas rantai pasok energi dunia.

Namun, Indonesia memilih langkah berani dengan memperkuat fondasi domestik melalui percepatan agenda swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.

Minyak sawit dan singkong kini diproyeksikan menjadi "peluru utama" Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor yang kian tidak menentu akibat perang.

Baca Juga: Superman 2025 Bikin Heboh! Bantu Negara Kecil, Dituduh Langgar Geopolitik Internasional

Sawit Nasional Tembus Rekor Produksi

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, mengungkapkan bahwa produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia pada 2025 mencatatkan kenaikan signifikan mencapai 51,6 juta ton, naik 7,5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Meski konflik global memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga 50 persen, ekspor sawit Indonesia ke negara tujuan utama seperti China dan India terpantau tetap berjalan kokoh.

Baca Juga: Puan Maharani Ingatkan Dubes Baru Harus Paham Geopolitik dan Siap Hadapi Tantangan Global

"Dengan kondisi global seperti ini, kita bersyukur ekspor sawit masih jalan meski terjadi kenaikan biaya yang luar biasa," ujar Eddy, Rabu (11/3).

Di dalam negeri, konsumsi sawit untuk biodiesel juga meningkat hingga 12,7 juta ton seiring implementasi program B40.

Singkong: Bahan Baku Bioetanol Masa Depan

Selain sawit, pemerintah mulai serius melirik singkong sebagai penopang ketahanan energi.

Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga, menyebut komoditas ini sangat potensial untuk dikonversi menjadi bioetanol guna menekan risiko kekurangan energi akibat ketegangan di Timur Tengah.

"Pemerintah menginginkan semua potensi energi dioptimalkan. Untuk satu liter bioetanol, dibutuhkan sekitar 5 hingga 7 kilogram singkong segar," jelas Arifin.

Saat ini, produksi singkong nasional berada di angka 14 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan bioetanol nasional mencapai 1,4 juta kiloliter, Indonesia memerlukan setidaknya 10 juta ton singkong segar untuk memenuhi bauran energi tersebut.

Strategi Jangka Panjang Hadapi Ketidakpastian

Kementerian Pertanian kini tengah meminta para pelaku industri dan petani untuk menyiapkan perencanaan produksi singkong secara masif. Langkah swasembada ini dinilai sebagai bantalan ekonomi yang kokoh bagi Indonesia.

Dengan basis produksi sawit yang kuat dan optimalisasi singkong, Indonesia memiliki posisi strategis untuk tetap tangguh. Kekuatan sumber daya domestik menjadi benteng utama menjaga stabilitas nasional ketika rantai pasok pangan dan energi dunia terganggu oleh kepentingan geopolitik.

Upaya memperkuat swasembada ini bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan langkah kedaulatan untuk memastikan ekonomi Indonesia tetap berputar meski tekanan global semakin kompleks.

Editor : Pujo Nugroho
#Indonesia #sawit #geopolitik #swasembada energi #konflik