Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

DRAMA DI JALUR MAUT! Berburu "Jalan Tikus" Masuk Hutan hingga Berpanas-panas di Jalanan, Begini Perjuangan Pemudik di Gilimanuk

Nurul Hidayati • Selasa, 17 Maret 2026 | 20:49 WIB

MASIH MACET: Laporan live google maps masih melihatkan kemacetan kurang lebih 12 kilometer ke arah Pelabuhan Gilimanuk pada Selasa (16/3) pukul 21.20 Wita.
MASIH MACET: Laporan live google maps masih melihatkan kemacetan kurang lebih 12 kilometer ke arah Pelabuhan Gilimanuk pada Selasa (16/3) pukul 21.20 Wita.

LombokPost - Aspal panas jalur Denpasar menuju Pelabuhan Gilimanuk berubah menjadi panggung ujian kesabaran bagi ribuan pemudik Lebaran 2026.

Kemacetan "horor" yang melumpuhkan urat nadi transportasi menuju Pulau Jawa ini menyisakan beragam cerita unik sekaligus memprihatinkan dari para pejuang mudik yang terjebak puluhan jam.

​Segala cara dilakukan demi bisa segera menyentuh bibir dermaga, mulai dari nekat menerobos jalur alternatif yang tak lazim hingga menjadikan jalan raya sebagai area refreshing.

​Nekat Terobos Jalan Tikus Masuk Hutan

​Rasa lelah yang memuncak memicu sebagian pemudik mencoba peruntungan dengan mencari "jalan tikus". Tak sedikit kendaraan pribadi yang mencoba keluar dari jalur utama dan memasuki jalan-jalan setapak pedesaan, bahkan hingga merambah kawasan hutan di sekitar Jembrana.

​Namun, harapan untuk memotong antrean sering kali berujung sia-sia. Pemudik bernama Putri Riani menceritakan upayanya mencari jalur alternatif bersama keluarga besar. "Kami sempat coba cari jalan tikus, masuk-masuk ke jalan setapak. Tapi apalah daya, semua jalan buntu dan ujung-ujungnya kami harus menyerah kembali masuk ke antrean utama. Menunggu hampir 15 jam cuma untuk bisa naik kapal," tuturnya dengan nada lemas.

​Beraktivitas Mendadak di Tengah Kemacetan

​Pemandangan tak biasa terlihat di sepanjang puluhan kilometer antrean. Karena kendaraan tidak bergerak selama berjam-jam, beberapa keluarga pemudik akhirnya memilih keluar dari mobil.

Mereka refreshing sekedar peregangan badan, berjalan-jalan di sekitar antrean, bahkan anak-anak terlihat bermain di bahu jalan untuk mengusir jenuh.

​Jalan raya yang seharusnya menjadi jalur cepat kini berubah fungsi menjadi ruang tunggu raksasa. Mesin-mesin mobil dimatikan demi menghemat bahan bakar.

Sementara para pengemudi hanya bisa mengelus dada melihat ekor kemacetan yang seolah tak berujung.

​18 Jam yang Menguras Emosi

​Ketangguhan fisik benar-benar diuji dalam arus mudik tahun ini. Bagus Setiadi, pemudik lain yang hendak menuju Jawa Timur, mengaku baru bisa bernapas lega setelah berhasil menyeberang ke Banyuwangi.

​"Saya bersama keluarga hampir 18 jam terjebak kemacetan parah di Bali. Baru sekarang bisa tiba di Banyuwangi. Rasanya seperti perjalanan yang tidak ada ujungnya," ungkap Bagus saat baru turun dari kapal penyeberangan di Pelabuhan Ketapang.

​Pesan Keselamatan untuk Pemudik

​Kondisi di Gilimanuk menjadi pengingat bagi warga NTB yang akan melakukan perjalanan balik atau mudik susulan. Dengan waktu tunggu yang mencapai belasan hingga puluhan jam, dehidrasi dan kelelahan menjadi ancaman nyata.

​Masyarakat dihimbau untuk tidak memaksakan diri mencari jalur alternatif yang tidak resmi (jalan tikus) karena berpotensi membuat kendaraan tersesat atau mengalami kerusakan di medan yang sulit. Tetaplah berada di jalur utama, patuhi arahan petugas, dan pastikan stok logistik di dalam kendaraan cukup untuk menghadapi skenario kemacetan terburuk.

Editor : Pujo Nugroho
#pemudik #mudik #macet #gilimanuk