Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wall Street Melemah, IHSG Diprediksi Tertekan, Bank Sentral AS dan UE Diproyeksikan Kerek Suku Bunga

Lombok Post Online • Senin, 30 Maret 2026 | 13:30 WIB

 

Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG

LombokPost - Tekanan pasar global kembali membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pelemahan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street menjadi sentimen utama yang memicu kekhawatiran pelaku pasar domestik.

Pengamat pasar modal Hans Kwee menyebutkan, tiga indeks utama Wall Street ditutup di level terendah dalam lebih dari tujuh bulan.

Kondisi tersebut sekaligus mengonfirmasi bahwa pasar saham global mulai memasuki tren penurunan (bearish).

Menurut dia, pasar gagal memperoleh sentimen positif dari perkembangan geopolitik terbaru.

“AS mempertimbangkan pengiriman hingga 10.000 pasukan tambahan. Ini meredupkan harapan berakhirnya konflik dalam waktu dekat,” ujar Hans Minggu (29/3).

Ketidakpastian geopolitik turut mengubah ekspektasi kebijakan moneter.

Pelaku pasar kini tidak lagi memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, sepanjang 2026.

Sebaliknya, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober mulai menguat.

Dampak konflik juga mulai terasa di kawasan Uni Eropa (UE). Aktivitas sektor swasta pada Maret tercatat melambat tajam, diiringi potensi kenaikan inflasi yang meningkatkan peluang kenaikan suku bunga oleh European Central Bank hingga sekitar 57 persen pada April.

Peluang Rebound di Kuartal II

Tekanan global tersebut ikut memengaruhi IHSG. Selain faktor geopolitik, pasar domestik juga dibayangi ultimatum dari MSCI serta potensi penurunan outlook peringkat akibat kekhawatiran defisit fiskal.

Meskipun demikian, secara valuasi IHSG dinilai sudah cukup menarik. Saat ini valuasi berada di kisaran 12 kali forward price to earnings (P/E), lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir.

“Jika ada katalis positif seperti terhindarnya downgrade MSCI atau meredanya konflik Timur Tengah, peluang rebound tajam bisa terjadi pada kuartal II,” tutur Hans.

Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan masih bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah. Level support berada di kisaran 6.900–7.000, sementara resistance di rentang 7.323–7.527.

Transaksi Bursa Meningkat

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mencatat aktivitas perdagangan saham selama periode 23–27 Maret 2026 menunjukkan pergerakan yang bervariasi.

Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyebutkan, peningkatan paling signifikan terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang naik 15,27 persen menjadi Rp 23,33 triliun dari Rp 20,24 triliun pada pekan sebelumnya.

“Frekuensi transaksi harian juga meningkat 9,01 persen menjadi 1,73 juta kali transaksi,” imbuhnya.

Meski aktivitas perdagangan meningkat, IHSG justru melemah tipis 0,14 persen menjadi 7.097,057 dari posisi 7.106,839 pada penutupan pekan sebelumnya. (mim/dio/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#ihsg #Amerika Serikat #Inflasi #pasar modal #saham