LombokPost - Masuk April, Indonesia akan menghadapi cuaca El Nino ekstrem yang belakangan disebut Godzilla El Nino. Kondisi tersebut bakal berlangsung sekitar enam bulan ke depan. Bagian selatan Indonesia akan mengalami kekeringan, sementara di timur laut berpotensi terjadi bencana banjir.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Prof. Erma Yulishastin mengatakan, El Nino ekstrem tersebut membawa dampak yang berbeda-beda untuk seluruh wilayah Indonesia sehingga membutuhkan mitigasi yang tepat untuk menekan risikonya.
“Situasi itu harus diantisipasi karena selatan Indonesia didominasi sentra penghasil padi, khususnya di Pulau Jawa,” kata Erma Selasa (31/3).
Baca Juga: Waspada! El Niño "Godzilla" dan IOD Positif Intai Indonesia, NTB Terancam Kekeringan Panjang
Selain itu, lanjut Erma, El Nino ekstrem juga berpotensi membawa dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah modifikasi cuaca sehingga dibutuhkan pasokan garam dapur dengan cara menaburkannya di atas awan dalam kondisi tertentu.
Dia menambahkan, El Nino ekstrem tersebut disebabkan oleh adanya Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kondisi ini muncul karena pembentukan hujan lebih banyak terjadi di kawasan Pasifik. Adanya IOD positif ini membuat suhu air laut di sekitar Sumatera dan Jawa menjadi lebih dingin.
Akibatnya, curah hujan berkurang. Erma menyebutkan, fenomena El Nino ekstrem itu bertepatan dengan masuknya musim kemarau di Indonesia sehingga dampaknya semakin kuat.
Baca Juga: BRIN Warning Kemunculan ‘Godzilla El Nino’, Jawa hingga Nusa Tenggara Terancam Kekeringan Ekstrem!
Penguatan Infrastruktur Pertanian
Untuk mengantisipasi dampak El Nino ekstrem, pemerintah menekankan mitigasi di sektor pertanian agar tidak sampai menurunkan produksi beras secara signifikan. Mitigasi dilakukan dengan penguatan infrastruktur pertanian dan peningkatan produksi.
“Insya Allah sektor pangan aman,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Baca Juga: Wilayah NTB Terdampak "Godzilla" El Nino, Berpotensi Jadi Bencana Kekeringan
Dia menegaskan, Indonesia punya pengalaman menghadapi El Nino pada 2023. Pengalaman itu menjadi pijakan penting dalam memperkuat strategi mitigasi saat ini.
Saat itu, upaya yang dilakukan adalah pompanisasi besar-besaran sehingga pasokan air di area persawahan tetap terjaga. Kemudian dilakukan perbaikan saluran irigasi serta optimasi lahan (oplah) untuk menjaga produksi beras tetap tinggi.
Amran menyampaikan, Kementerian Pertanian telah memperkuat pompanisasi dengan pemasangan puluhan ribu pompa di berbagai sentra produksi. Selain itu, pemerintah memastikan sistem irigasi berfungsi optimal untuk menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
Selain itu, oplah juga terus didorong untuk meningkatkan indeks pertanaman. Sehingga lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami satu kali mampu ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali tanam. (wan/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi