LombokPost - Tak cuma BBM nonsubsidi, kenaikan harga signifikan juga terjadi LPG nonsubsidi.
PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga LPG 12 kg dari Rp 192 ribu menjadi Rp 228 ribu per tabung.
Artinya, terjadi kenaikan sebesar Rp 36 ribu atau sekitar 18,75 persen alias hampir 20 persen.
Baca Juga: Gas LPG 3 Kg Sempat Langka dan Mahal di Lombok Timur, Pertamina Patra Niaga Tambah 59 Ribu Tabung!
Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak 2023 dan berlaku per 18 April 2026 di sejumlah wilayah.
Mulai dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Jogjakarta, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk wilayah lain, harga disesuaikan dengan biaya distribusi.
Tak hanya ukuran 12 kg, LPG (liquefied petroleum gas) nonsubsidi 5,5 kg juga ikut terkerek.
Baca Juga: Terbongkar! Modus Mafia BBM & LPG Subsidi Diungkap, Pertamina dan Bareskrim Turun Tangan
Harganya naik dari Rp 90 ribu menjadi Rp 107 ribu per tabung atau meningkat sekitar 18,89 persen alias hamper 20 persen juga.
Kenaikan ini menandai berakhirnya periode harga yang relatif stabil sejak penyesuaian terakhir pada November 2023. Ketika itu, harga LPG 12 kg sempat diturunkan.
Pemerintah memastikan kenaikan hanya berlaku untuk LPG nonsubsidi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, LPG 3 kg bersubsidi atau yang biasa dikenal dengan sebutan elpiji melon tidak mengalami perubahan harga.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Ungkap “Urat Nadi” LPG RI, STS Kalbut Jadi Kunci Pasokan Energi Nusantara!
“Negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu, itu aja kok,” ujarnya.
Tekanan Global
Pemerintah mengungkapkan, kenaikan harga tidak lepas dari tekanan global. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipicu situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
Konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran itu berdampak langsung pada pasokan energi dunia. Salah satu titik krusial adalah terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen minyak global.
Kondisi tersebut diperparah dengan serangan terhadap fasilitas energi yang semakin menekan pasokan. Di sisi lain, Pertamina telah menyampaikan penyesuaian harga tersebut melalui surat edaran resmi kepada para agen. Penyesuaian berlaku hingga ada kebijakan baru berikutnya. (bry/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi