LombokPost - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga kuartal I/2026 menunjukkan ekspansi yang kuat.
Di tengah gejolak global, pemerintah tetap agresif mendorong belanja tanpa mengorbankan disiplin fiskal.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, hingga 31 Maret 2026 pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan (YoY).
Baca Juga: Menkeu Purbaya Beri Bocoran Jadwal Cair Mulai Juni dan Potensi Penyesuaian Besaran
“Kebijakan diupayakan seoptimal mungkin agar pertumbuhan ekonomi bisa menuju 6 persen, meski kondisi global tidak menentu,” ujarnya dalam paparan APBN KiTa pada Selasa (5/5).
Dari sisi perpajakan, kinerja terlihat solid. Penerimaan perpajakan mencapai Rp 462,7 triliun atau 17,2 persen dari target APBN, tumbuh 14,3 persen YoY.
Secara rinci, penerimaan pajak mencapai Rp 394,8 triliun, melonjak 20,7 persen YoY. Sementara itu, kepabeanan dan cukai sebesar Rp 67,9 triliun, terkontraksi 12,6 persen.
Baca Juga: Menkeu Proyeksikan Defisit APBN 2,9 Persen, Asumsi Harga Minyak Sepanjang Tahun USD 100 Per Barel
Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target.
Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp 815 triliun atau 21,2 persen dari pagu, melonjak 31,4 persen YoY.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya tumbuh 1,4 persen. “Ini menunjukkan belanja lebih merata sejak awal tahun,” tutur Purbaya.
Belanja pemerintah pusat mencapai Rp 610,3 triliun, tumbuh 47,7 persen.
Rinciannya, belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 281,2 triliun dan belanja non-K/L Rp 329,1 triliun.
Sementara itu, transfer ke daerah tercatat Rp 204,8 triliun, sedikit terkontraksi 1,1 persen YoY.
Dengan kombinasi tersebut, defisit APBN tercatat Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Sepanjang tahun akan kita jaga di bawah 3 persen, sesuai desain APBN,” tegasnya. (mim/dio/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online